x
Login

Or


New to Moslem Lifestyle? Sign up!
x
Forgot Password

Please enter the email address registered on your account


x Have an account? Login
Sign up


Or

x

Stay in the know

The latest news and fabulous ideas straight to your inbox.


Travel Religi   Wisata Religi

Tetap Menjalani Tradisi, Ini Suku Bali yang Memeluk Islam Sejak Zaman Kerajaan


Durasi Baca: Hanya 1 Menit

Pulau Bali memang dikenal sebagai pulau dewata dengan penduduk mayoritas beragama Hindu. Sementara itu, Islam merupakan agama minoritas hanya sekitar 13 persennya saja (data tahun 2016).

Namun, di tengah-tengah kehidupan masyarakat suku Bali penganut Hindu yang sarat dengan ritual dan kental tradisi, masyarakat Muslim Bali mampu berbaur dengan umat mayoritas dengan indahnya nuansa toleransi.

Tentunya hal ini menjadi warna tersendiri bagi para wisatawan, baik dalam maupun luar negeri. Untuk kita yang ingin menyambangi sejumlah daerah dengan sebutan kampung Islam di Bali, berikut dua tempat yang direkomendasikan.

Kampung Loloan, Jembrana

Kampung ini berjarak sekitar 90 kilometer dari kota Denpasar di mana sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai pedagang dan nelayan.

Kampung Loloan adalah daerah yang dikenal sebagai pemukiman Muslim sejak lama, dikenal sebagai kampung kuno sekaligus merupakan wilayah umat Islam terbesar di Kabupaten Jembrana. Keberadaannya tidak bisa dilepaskan dari pengaruh budaya Bugis dan Melayu yang dibawa oleh sejumlah tokoh di masa lalu.

Keberadaan suku Bali Muslim di Desa Loloan ini bermula dari kedatangan sejumlah pasukan dari Bugis sekitar 4 abad silam, yang kemudian memilih untuk menetap.

Lokasi tepatnya di sebuah muara kampung di wilayah Perancak, bukti kuat yang menandai ialah adanya Sumur Bajo pinggir pantai. Setelah berhenti sejenak di daerah tersebut, orang-orang Bugis ini selanjutnya membuat pemukiman melalui jalur Sungai Ijo Gading.

Memang hubungan antara penganut Islam dan Hindu di Bali telah terjalin harmonis sejak lama. Oleh karenanya, atas izin penguasa Jembrana, I Gusti Arya Pancoran, kelompok Bugis-Melayu ini diizinkan menempati daerah Loloan.

Di samping itu, kedatangan seorang ulama besar dari tanah Melayu bernama Buyut Lebai juga membuktikan hubungan yang telah terjalin sejak lama antara kampung Islam di Bali dengan dunia luar.

Adanya jalinan hubungan baik dengan penguasa setempat, Buyut Lebai diperkenankan untuk  mengajarkan agama melalui dakwah. Makam Buyut Lebai sendiri bisa ditemukan di Jalan Gunung Agung, Loloan Timur, Jembrana.


Baca juga:


Kampung Pegayaman, Buleleng

Sebenarnya kehidupan sehari-hari masyarakat Muslim Pegayaman, Buleleng, tak berbeda seperti kehidupan di Bali pada umumnya. Satu yang nampak berbeda hanyalah rumah ibadah, hal ini justru menjadi hal yang unik karena simbol-simbol adat Bali seperti banjar, subak, seka, dipelihara dengan baik oleh kelompok Muslim.

Akulturasi agama dan tradisi di Bali berjalan harmonis, bahkan tidak terkecuali dalam pemberian  nama-nama anak mereka. Nama-nama seperti Made, Wayan/Putu, Nyoman, Nengah, Ketut tetap diberikan sebagai kata depan yang khas Bali. Mungkin di telinga kita akan terasa unik saat mendengar nama Made Abdul Karim, Nyoman Abdurrahman, dan sejenisnya.

Menurut sejarahnya, asal mula penduduk kampung Pagayaman ini berasal dari para prajurit Jawa atau kawula asal Sasak dan Bugis. Mereka merupakan pemeluk agama Islam yang dibawa oleh Raja Buleleng pada zaman kerajaan Bali.

Menetap di daerah berbukit yang dikelilingi pepohonan rindang, sekitar 5000 jiwa warga Muslim Pagayaman tekun menjaga adat istiadat leluhur di tengah bergulirnya arus kemajuan zaman.

Di Pagayaman, ada yang sedikit berbeda dari kebiasaan komunitas Muslim lainya di Bali, yakni shalat Tarawih dilakukan menjelang pukul 22.00 WITA. Alasannya memberikan kesempatan kepada para wanita yang memiliki banyak kesibukan untuk mempersiapkan diri.

Saat lebaran tiba, perayaan Idul Fitri di Pagayaman juga dipengaruhi oleh tradisi Bali dalam hal pakaian atau pun aksesoris yang dikenakan.

Perbedaan bukan berarti harus saling menang di antara yang lain, justru dengan perbedaan kita bisa jadi lebih bijak dalam menghargai apa yang kita punya. Bukankah lebih membahagiakan untuk hidup damai berdampingan satu sama lain? Yuk, kunjungi kampung Muslim di Pulau Bali!

Danur K Atsari



Buat Tulisan
Liburan Penuh Faedah Bisa Kita Dapatkan dengan Tips Traveling Sendiri
Previous
Liburan Penuh Faedah Bisa Kita Dapatkan dengan Tips Traveling Sendiri
Kram Perut saat Haid Ternyata Bisa Disebabkan dari Makanan dan Minuman Ini, Lho!
Next
Kram Perut saat Haid Ternyata Bisa Disebabkan dari Makanan dan Minuman Ini, Lho!
Related Articles
Back to
top