x
Login

Or


New to Moslem Lifestyle? Sign up!
x
Forgot Password

Please enter the email address registered on your account


x Have an account? Login
Sign up


Or

x

Stay in the know

The latest news and fabulous ideas straight to your inbox.


Travel Religi   Wisata Religi

Dulu Kumuh, Rumah Kampung di Malang Ini Kini Jadi Tempat Wisata


Durasi Baca: 1 Menit 

Dahulu, Kampung wisata Jodipan di Kota Malang, Jawa Timur bisa disebut sebagai pemukiman kumuh. Namun, sekarang rumah kampung yang terlihat kumuh itu disulap menjadi lokasi yang banyak dikunjungi wisatawan. Diperkirakan ada ratusan wisatawan yang datang ke kampung warna-warni setiap akhir pekannya.

Setiap pengunjung yang datang dapat berkeliling gang-gang sempit juga mengambil foto maupun selfie di dalam kampung yang berada di bantaran Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas, sedangkan para warga akan tetap melakukan aktivitas seperti biasa.  Para wisatawan diperbolehkan masuk ke dalam pemukiman ataupun berfoto di atas jembatan untuk mengambil gambar dengan latar belakang Kampung Jodipan yang mengagumkan ini.

Terdapat sekitar 107 rumah warga di sini yang tampak dicat dengan 17 warna, dengan gambar yang dibuat oleh komunitas mural. Sebenarnya, ide mewarnai kampung ini muncul dari sejumlah mahasiswa-mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadyah Malang yang bergabung dalam kelompok guyspro.

Nabila Firdausiyah selaku Koordinator guyspro, mengaku awalnya hanya ingin mengubah kebiasaan warga di bantaran sungai yang membuang sampah ke sungai, dan  Jodipan dipilih karena terlihat memiliki lanskap yang bagus jika dilihat dari jembatan Jalan Gatot Subroto.

Selain mereka, juga ada komunitas mural dan sekitar 30 tukang cat yang ikut berkontribusi untuk mengubah wajah kampung yang dulunya terlihat kumuh ini. Kampung warna-warni ini mulai dikenal luas sejak fotonya dibagikan ke media sosial dan tidak disangka menjadi tujuan tempat wisata di Malang.


Baca Juga:


Kedatangan wisatawan mengubah perilaku warga.

Tidak semua rumah memiliki toilet pada lokasi ini, dan toilet umun digunakan secara bergantian oleh warga. Kedatangan wisatawan sedikit-sedikit mengubah kebiasaan warga yang dulunya selalu menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan untuk membuang sampah pada tempatnya. Sejumlah tempat sampah dibuat untuk menampung sampah yang kemudian akan diangkut oleh petugas kebersihan setiap hari.

Biaya untuk mengangkut sampah itu didapat dari tiket masuk senilai Rp 2.000 per pengunjung. Bahkan, uang yang dihasilkan dari tiket masuk itu juga digunakan untuk perawatan lingkungan. Bukan hanya itu saja, kunjungan wisata ke kampung ini juga memberikan dampak baik terhadap perekonomian warga. Karena, semenjak adanya Rumah Kampung warna-warni ini, mereka pun dapat berjualan makanan dan minuman untuk para wisatawan.

Sempat terancam digusur, tapi kini Wali Kota Malang justru menetapkan permukiman warga Jodipan dan Ksatrian di bantaran sungai Brantas sebagai obyek wisata Rumah Kampung Warna-Warni.

Fifi Jacob



Buat Tulisan
Sejarah Imam Masjidil Haram Pertama dari indonesia
Previous
Sejarah Imam Masjidil Haram Pertama dari indonesia
Trik Hemat Liburan Seru Backpacker Ke Jepang
Next
Trik Hemat Liburan Seru Backpacker Ke Jepang
Related Articles
Back to
top