x
Login

Or


New to Moslem Lifestyle? Sign up!
x
Forgot Password

Please enter the email address registered on your account


x Have an account? Login
Sign up


Or

x

Stay in the know

The latest news and fabulous ideas straight to your inbox.


Inspiring People   Figure

Kisah Manis Poetry Gladies Jalani Bisnis Kue Brownies Dapur Gladies


Durasi Baca: Hanya 1 Menit

Perkembangan media sosial yang semakin pesat terus dimanfaatkan sebagian besar orang untuk kepentingan bisnis.

Dengan ide unik dan konsistensi memberikan yang terbaik dalam dunia berdagang, bukan tidak mungkin bisnis tersebut membuahkan kesuksesan.

Salah satu figur muslimah yang sukses memanfaatkan hal ini adalah Poetry Gladies Karina Dewi. Meski tidak punya wujud toko berupa bangunan nyata, usaha Gladies membangun bisnis kue melalui media sosial semakin hari semakin laris manis.

Bungsu dari dua bersaudara ini terus berkreasi terkait usaha ‘Dapur Gladies’ yang dirintis sejak November 2013 lalu.

Wanita yang pernah berkarir di salah satu stasiun TV di Jakarta ini berkisah bahwa sudah sejak lama ia menekuni hobi dan kesenangannya membuat kue, tetapi baru benar-benar serius mengambil langkah bisnis setelah lulus kuliah di Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung.

Awal Langkah Kue ‘Waiting List’ Dapur Gladies

Awalnya Gladies tidak berniat untuk membuka usaha, ia hanya ingin mengajak anak muda kembali ke dapur dan senang memasak.

Terus disemangati pengikut, kemudian Gladies jadi tertarik mencoba menjual kue yang lama-lama memantapkannya untuk fokus di bidang ini.

Muslimah cantik satu ini justru senang dan sama sekali tidak merasa terbebani, latar belakang kuliah Gladies di jurusan Pastry pun juga sangat berguna baginya.

Dengan modal Rp 300 ribu, Gladies memulai usaha ini dari nol. Cerita waiting list kue brownies buatannya bermula saat Gladies gencar mengirimkan satu kotak brownies secara gratis ke seorang artis yang juga masih temannya sebagai endorsement.

Testimoni sang artis tersebut diunggah ke Twitter untuk menarik jumlah pelanggan. Tak disangka, langkah ini sangatlah efektif.

Tadinya, pesanan hanya berjumlah delapan kotak seminggu. Lama-lama, bertambah hingga lebih dari 1.000 kotak dalam sebulan.

Dalam menjalankan usahanya ini Gladies hanya dibantu oleh sang ibu dan seorang asisten. Dengan begitu Gladies juga membatasi pesanan dan membuat waiting list untuk beberapa pesanan.

Demi mengontrol mutu, setiap orang hanya boleh memesan maksimal enam loyang dalam satu periode pemesanan.

Gladies semata ingin kualitas brownies-nya terjaga, ia khawatir pemesanan yang banyak hanya akan dijual kembali sehingga sulit pengawasannya.

Mengedepankan Kualitas Daripada Kuantitas

Gladies memang membatasi pesanan yang datang dan hanya membuat pesanan melalui chat.

Setiap calon konsumen akan dihubungi kembali untuk konfirmasi varian yang dipesan, informasi waktu pengiriman, serta alamat tujuan.

Wanita kelahiran 1989 ini, juga mengakui hanya memilih bahan-bahan berkualitas dan tidak irit pemakaiannya.

Misalnya saja untuk topping keju, satu loyang bisa menghabiskan satu batang keju cheddar. Sementara soal kemasan, sengaja ia buat berlapis agar tidak basah dan cepat rusak di perjalanan.


Baca Juga:


Untuk mengantisipasi daftar tunggu yang panjang, pesanan tidak ia buka setiap saat, atau sebulan penuh, melainkan hanya satu jam. Itu pun untuk produksi sekitar satu bulan.

Calon konsumen harus memantau akun Twitter @DapurGladies atau akun Instagram @dapurgladiesid. Gladies akan mempublikasikan kapan akan membuka pesanan atau open order yang berlangsung satu jam saja dalam satu hari.

Lewat dari itu, ia tidak akan menerima pesanan lagi. Kue brownies legit buatannya dipatok harga dari Rp 70 ribu sampai Rp 110 ribu (di luar ongkos kirim).

Tidak ingin ketinggalan tren, varian yang disediakan menggunakan beberapa bahan seperti Nutella, Milo cheese, Toblerone vs M&M, Supermix, Peanut butter, dan Black n White.

Berbicara soal suka duka, dari hasil usahanya ini Poetry Gladies bisa meraup omset sekitar Rp 4-5 juta per hari.

Sementara di sisi lain ia juga harus semakin ekstra sabar menghadapi pelanggan yang tidak sabaran dan selalu menanyakan soal pesanan.

Padahal, proses pembuatan dan pengiriman pasti akan ia kabari selanjutnya. Inilah bukti nyata soal wanita yang tidak hanya secara cerdas melihat peluang, tapi juga menggerakkan ide bisnisnya sendiri agar memuaskan banyak orang. Siap mencontoh?

Danur K Atsari



Buat Tulisan
Bukan Cuma DBD atau Malaria, Nyamuk Juga Sebabkan Japanese Enchepalitis
Previous
Bukan Cuma DBD atau Malaria, Nyamuk Juga Sebabkan Japanese Enchepalitis
Nikmati Liburan Seru dan Instagrammable di Kota Lama Semarang
Next
Nikmati Liburan Seru dan Instagrammable di Kota Lama Semarang
Related Articles
Back to
top