x
Login

Or


New to Moslem Lifestyle? Sign up!
x
Forgot Password

Please enter the email address registered on your account


x Have an account? Login
Sign up


Or

x

Stay in the know

The latest news and fabulous ideas straight to your inbox.


Lifestyle   FYI

Perlu Diingat, Seperti Ini Pandangan Menikah Menurut Ulama


Pandangan Menikah Menurut Ulama

Durasi Baca: Hanya 1 Menit

Perkawinan adalah fitrah dari kemanusiaan. Lantas, bagaimana pandangan menikah menurut ulama?

Menikah bukanlah perkara mudah, bukan pula hanya sekadar ritual mempersatukan dua insan semata.

Menikah, membangun rumah tangga bukan hanya sekadar bermain peran. Makna pernikahan lebih dari itu.

Dalam Islam, menikah adalah ibadah yang paling lama. Bisa dikatakan ibadah jika menikah dijalankan dengan sungguh-sungguh dan keikhlasan.

Perintah Menikah dalam Alquran

  1. Perintah Menjaga Kesucian Diri

Dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian (diri) nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya.” (QS. An Nuur: 33).

Allah SWT memerintahkan manusia menikah salah satunya adalah menjaga kesucian diri dan menjauhkan diri dari zina. 

Allah SWT memberikan aturan menikah dan semuanya dilakukan agar manusia terhindar dari kesesatan dan kemaksiatan.

  1. Perintah Menikahkan Laki-Laki dan Perempuan Yang Sendirian

Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. An Nur: 32).

Allah juga memerintahkan untuk menikahkan orang-orang yang sendirian yang sudah layak untuk menikah agar mereka bisa berkeluarga, serta Allah menjanjikan rezeki dan kemapanan karena nikmat Allah sangat luas.

Menikah Menurut Ulama

Menurut pendapat beberapa ulama, menikah adalah suatu yang sangat dianjurkan, walau beberapa ulama ada yang menganggapnya sebagai kewajiban.

Berikut adalah pendapat beberapa ulama mengenai kewajiban menikah.

  1. Pendapat Al-Qurtubi

“Seorang yang mampu dan khawatir terhadap dirinya dan agamanya untuk menjaga keperjakaannya, kehawatiran tersebut tidak bisa dihilangkan kecuali dengan menikah dan tidak ada perbedaan akan wajibnya menikah baginya.


Baca juga:


Al-Qurtubi menjelaskan bahwa ketika ada seorang lelaki yang khawatir untuk tidak dapat menahan dirinya, maka harus menikah dan sifatnya seperti wajib.

menikah

  1. Dalam Kitab Al Inshaaf

Barang siapa yang khawatir akan terjerumus pada perzinaan, maka pernikahan baginya adalah wajib. Dalam hal ini satu pendapat tidak ada perbedaan. “Al ‘anat” adalah zina, atau kehancuran dengan zina. Kedua: Maksud dari perkataannya: “…kecuali jika ia takut pada dirinya akan terjerumus kepada yang diharamkan”, jika ia mengetahui atau mengira akan terjadinya hal tersebut. Ia berkata dalam “Al Furu’”: “…Maka diwajibkan (menikah) jika ia mengetahui bahwa dirinya akan terjerumus saja.

  1. Dalam Hadist, Ibnu Mas’ud

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

Wahai para pemuda, barang siapa di antara kalian yang mampu maka menikahlah, karena akan lebih menundukkan pandangan, dan lebih mampu menjaga kemaluan. Dan barang siapa yang merasa tidak mampu maka berpuasalah, karena puasa bisa memecah syahwat.

Dari hadist tersebut dijelaskan bahwa pemuda yang sudah siap menikah maka lebih baik jika menikah karena lebih aman dan mampu menjaga dirinya.

Sedangkan apabila tidak maka tidak masalah, asalkan mampu menahan syahwatnya.

  1. Dalam Fiqh Sunnah

Masalah menikah terdapat dalam Fiqh Sunnah, Bab 2-15-18, bahwa menikah adalah menyelesaikan masalah terbesar yaitu perzinahan.

Namun, bagi yang tidak merasa akan masuk ke dalam hal yang diaharamkan maka akan berbeda hukumnya. Hal ini disebutkan:

Kewajiban menikah juga termasuk kepada pelaku maksiat, meskipun hanya melihat, mencium. Dan jika tidak menikah baik laki-laki maupun perempuan yang mengetahui atau berpotensi besar kalau tidak menikah akan terjerumus pada perzinaan atau yang hukumnya setara dengannya atau mendekati hukum perzinaan, seperti onani, maka ia wajib menikah, dan tidak gugur kewajiban nikah tersebut bagi seseorang yang mengetahui bahwa dirinya tidak akan terjerumus kepada yang diharamkan, karena dengan menikah akan mengurangi kemaksiatan dan disibukkan dari yang diharamkan, hal ini berbeda jika ia tetap membujang maka ia cenderung bebas melakukan kemaksiatan pada setiap keadaan.

  1. Pendapat Imam Mahdzab

Imam Syafi’i memiliki pendapat bahwa hukum dari menikah adalah mubah. Untuk itu, orang yang tidak menikah tentu saja tidak berdosa.

Imam Syafi’i juga berpedapat bahwa pernikahan adalah sarana penyaluran syahwat juga meraih kehalalan dalam masalah tersebut.

Hal ini sebagaimana mubahnya makan dan minum, tentu perlu disalurkan dalam konteks tertentu.

Sobat, seperti itulah pandangan menikah menurut ulama. Semoga kita dapat menjaga diri kita dari hawa nafsu dan godaan setan. Aamiin.

Dayana Cinthya



Buat Tulisan
Benarkah Ada Banyak Manfaat Jeruk Limau untuk Kesehatan?
Previous
Benarkah Ada Banyak Manfaat Jeruk Limau untuk Kesehatan?
Ternyata Begini Aturan Minum Obat 3 Kali Sehari yang Benar!
Next
Ternyata Begini Aturan Minum Obat 3 Kali Sehari yang Benar!
Related Articles
Back to
top