x
Login

Or


New to Moslem Lifestyle? Sign up!
x
Forgot Password

Please enter the email address registered on your account


x Have an account? Login
Sign up


Or

x

Stay in the know

The latest news and fabulous ideas straight to your inbox.


Lifestyle   FYI

Jangan Mau Jadi Budak Kesesatan, Kita Harus Bisa Menahan Hawa Nafsu


Durasi Baca: Hanya 1 Menit

Manusia sejatinya dilengkapi dengan akal pikiran dan hawa nafsu, apabila tidak dikendalikan dengan baik kerap kali menyeret manusia tersebut untuk melanggar hukum Allah SWT.

Adapun hawa nafsu bermakna lebih luas, yakni kecintaan terhadap sesuatu sehingga kecintaan itu menguasai hati.

Sementara berdasarkan istilah, hawa nafsu merupakan kecondongan jiwa terhadap sesuatu yang disukainya sehingga keluar dari batas syari’at.

Kalau sudah begini, sangat diperlukan benteng menahan hawa nafsu agar kita tidak keluar jalur, ya, Sobat.

Menahan hawa nafsu demi keselamatan diri sendiri

Sejatinya hawa nafsu berasal dari dalam jiwa, termasuk kecintaan dan kebencian. Semata-mata hawa nafsu, baik itu kecintaan dan kebencian yang ada di dalam jiwa manusia tidaklah tercela sebab terkadang hal itu tak bisa dikuasai. Akan tetapi yang tercela adalah mengikuti hawa nafsu, sebagaimana firman Allah SWT,

“Hai Daud! sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia secara adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, sebab ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah.” (Shaad:26)

Tersebutlah bahwa seseorang yang mengikuti hawa nafsu adalah seseorang yang mengikuti perkataan atau perbuatan yang semata dia sukai.

Di sisi lain, ia menolak perkataan atau perbuatan yang dia benci dengan tanpa dasar petunjuk dari Allah SWT.

Jenis hawa nafsu yang merugikan

Terus-menerus mengikuti hawa nafsu akan menyeret pelaku kepada kesesatan dan kerusakan. Salah satu faktor penyebab timbulnya bid’ah hawa nafsu.

Sebagaimana dikatakan oleh Syaikhul Islam, bahwa permulaan bid’ah adalah mencela Sunnah (ajaran Nabi) dengan dasar persangkaan dan hawa nafsu.

Sama halnya iblis yang mencela perintah Allah (saat diperintahkan sujud kepada Adam) dengan pikiran dan hawa nafsunya. Terdapat tiga perkara yang membinasakan dan tiga perkara yang menyelamatkan manusia mengenai hal ini.

Adapun tiga perkara yang membinasakan antara lain kebakhilan dan kerakusan yang selalu diikuti, hawa nafsu yang dituruti, dan orang yang selalu membanggakan diri sendiri.

Sementara itu, tiga perkara yang menyelamatkan adalah takut kepada Allah di waktu sendirian atau dilihat orang banyak, sederhana di waktu kekurangan dan kecukupan, dan tetap bersikap rasional di waktu marah dan ridha.


Baca Juga:


Sama halnya juga bahaya mengikuti hawa nafsu adalah mendatangkan kesusahan dan kesempitan hati. Orang yang mengikuti hawa nafsu seperti mencari kepemimpinan dan ketinggian di dunia, keterikatan hati dengan bentuk-bentuk keindahan (kecantikan, ketampanan, dan lain sebagainya), di tengah usaha mencari harta menemui rasa susah, sedih, dan sempit hati yang tidak bisa diungkapkan.

Kemungkinan besar hatinya tidak mudah untuk meninggalkan keinginannya, dan dia pernah tidak merasa mendapatkan apa yang menggembirakannya.

Bahkan sangat mungkin selalu berada di dalam ketakutan dan kesedihan yang terus menerus. Jika dia mencari sesuatu yang dia sukai, maka sebelum dia mendapatkannya, dia selalu sedih dan perih karena belum mendapatkannya.

Apabila sudah mendapatkannya, maka dia takut kehilangan atau ditinggalkan (sesuatu yang dia sukai itu).

Meraih keselamatan dunia akhirat adalah tujuan setiap manusia. Jika merasa masih menjadi orang yang mengikuti hawa nafsu, maka kita harus menerapi diri dengan rasa takut kepada Allah SWT demi menahan hawa nafsu sesat.

Diperlukan tiang amalan solat dan puasa yang lebih kuat, dibentengi dengan banyak berdzikir. Kita perlu banyak membaca do’a meminta agar dianugerahi akhlak yang mulia.

Dari Ziyad bin ‘Ilaqoh, Nabi membaca do’a, ‘Allahumma inni a’udzu bika min munkarotil akhlaaqi wal a’maali wal ahwaa’ (Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari akhlaq, amal dan hawa nafsu yang mungkar).

Saat rasa takut kepada Allah sudah tertanam di dalam hati, tentu hati tersebut lebih bisa memahami dan melihat kebenaran sebagaimana mata yang melihat benda-benda dengan adanya sinar terang matahari. Insya Allah.

 

Danur K Atsari



Buat Tulisan
Tips Praktis untuk Membuat Masakan Khas India Samosa di Rumah
Previous
Tips Praktis untuk Membuat Masakan Khas India Samosa di Rumah
Yuk, Kunjungi Tempat Makan di Purwokerto Ini yang Selalu Ramai Pengunjung
Next
Yuk, Kunjungi Tempat Makan di Purwokerto Ini yang Selalu Ramai Pengunjung
Related Articles
Back to
top