x
Login

Or


New to Moslem Lifestyle? Sign up!
x
Forgot Password

Please enter the email address registered on your account


x Have an account? Login
Sign up


Or

x

Stay in the know

The latest news and fabulous ideas straight to your inbox.


Lifestyle   FYI

Masa Tua dan Amalan Baik yang Seharusnya Dikejar


Durasi Baca: Hanya 1 Menit

Sejatinya tiap manusia akan mengalami pertumbuhan fisik atau perkembangan jasmani. Dalam masa tersebut, ada berbagai tahap perkembangan yang melalui fase panjang dari masa bayi hingga berakhir dengan kematian.

Fase-fase itu seperti fase bayi, kanak-kanak, remaja, dewasa dan fase usia tua. Semua fase ini pasti akan dilalui tiap manusia, kecuali orang-orang yang Allah SWT takdirkan pada mereka ajal datang terlebih dahulu sebelum melewati semuanya.

Sebelum masa tua maupun ajal menjemput tersebut, persiapan apakah yang sudah kita lakukan? Sebab kehidupan setelah itulah yang sesungguhnya yang kekal.

Menolak kesengsaraan di masa tua

Seluruh fase akan juga dialami oleh setiap orang tanpa mampu ditunda, ditolak, atau dilawan. Demikian inilah sudah menjadi salah satu ketetapan Allah, tidak ada seseorang yang akan terus dalam satu fase secara terus-menerus. Sang Maha Pencipta berfirman,

“Dialah yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) agar kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup) sampai tua. Di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (Kami perbuat demikian) agar kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan kamu memahami(nya)” (Al-Mukmin: 67).

Marhalah syaikhûhah (masa tua) adalah fase terakhir yang akan dihadapi dan dialami manusia. Mengenai batasan usia tua, Imam al-Qurthubi rahimahullah berkata, “Syaikh (orang yang tua) adalah orang yang telah melewati 40 tahun.”

Berdasarkan ini, maka siapa saja yang telah melewati usia 40 tahun sama artinya telah berada dalam fase terakhir kehidupannya. Dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda,

“Usia umatku (umat Islam) adalah antara 60 hingga 70 tahun. Dan sedikit dari mereka yang melewatinya.”

Ketika fase ini mulai datang, kekuatan fisik sedikit demi sedikit menurun, daya ingat dan ketajaman mata mulai berkurang, kulit mengendur, serta guratan-guratan tanda penuaan pun muncul.

Rambut-rambut putih pun sedikit demi sedikit menghiasi kepala, beberapa penyakit degeneratif juga banyak muncul pada fase ini.

Apakah berarti seseorang memperoleh kebahagiaan yang lebih ketika dianugerahi usia yang lebih panjang daripada kawan-kawan sebayanya?


Baca Juga:


Sebenarnya usia yang panjang termasuk nikmat dunia, tidak seketika orang yang memilikinya lebih baik daripada yang tidak.

Hal ini akan menjadi nikmat yang sebenarnya apabila sang pemilik memanfaatkannya dengan sungguh-sungguh dalam urusan kebaikan, amal shaleh, serta ketaatan kepada Rabb-nya.

Hakekatnya orang yang berumur panjang atau memperoleh usia di atas rata-rata, ia sedang mendapatkan kesempatan berharga dan peluang emas untuk terus berbuat baik bagi dirinya dan menghambakan diri pada Allah.

Karakter seorang Mukmin ialah bertambahnya amalan kebaikan seiring dengan pertambahan usia di muka bumi. Keyakinan itu datang, bahwa kematian bila datang kepadanya akan menghentikan kesempatannya untuk beramal shaleh.

Misalnya dengan mempertebal ibadah wajib, menambah amalan sunnah, menambah Alquran dan mentadaburinya, berdzikir dan shalawat, hingga rutin bersedekah.

Rasulullah SAW bersabda,

“Janganlah seseorang dari kalian mengharapkan kematian, dan jangan pula berdoa agar segera mendapat kematian sebelum kematian itu datang kepadanya. Sesungguhnya bila ia mati, maka terputuslah amalannya dan bahwa tidaklah usia seorang mukmin itu bertambah pada dirinya kecuali akan menambah kebaikan.” (HR. Muslim).

Syaikh Muhammad bin Shâlih al-‘Utsaimin pernah berkata,

 “Maka, seyogyanya orang yang usianya semakin menua untuk memperbanyak amal shaleh. Walaupun para remaja juga seharusnya demikian, sebab manusia tidak tahu kapan ia akan meninggal. Bisa saja, seorang pemuda meninggal pada usia mudanya atau ajalnya tertunda hingga ia tua. Akan tetapi yang pasti, orang yang sudah berusia senja, sudah lebih dekat kepada kematian, lantaran telah menghabiskan jatah usianya.”

Sungguhlah aneh bila orang yang sudah berusia tua belum mau memperbaiki diri, padahal ia paling dekat dengan kematian.

Bahkan mungkin perbuatan buruknya kian menjadi-jadi, sampai-sampai kematian datang menjemput saat tengah berdosa. Naudzubillahi min dzalik.

 

Danur K Atsari



Buat Tulisan
Intip Kelezatan dan Otentiknya 7 Makanan Khas China
Previous
Intip Kelezatan dan Otentiknya 7 Makanan Khas China
Ukir Kenangan Indah Di 5 Tempat Makan Romantis Di Jakarta Ini
Next
Ukir Kenangan Indah Di 5 Tempat Makan Romantis Di Jakarta Ini
Related Articles
Back to
top