x
Login

Or


New to Moslem Lifestyle? Sign up!
x
Forgot Password

Please enter the email address registered on your account


x Have an account? Login
Sign up


Or

x

Stay in the know

The latest news and fabulous ideas straight to your inbox.


Lifestyle   FYI
Bentuk dan Nominal Mahar Pernikahan Dalam Islam

Mahar-Pernikahan-Dalam-Islam

Durasi Baca: Hanya 1 Menit

Dalam syarat pernikahan, diharuskan untuk laki-laki memberikan mahar kepada perempuan. Maka, ketahui dulu seperti apakah mahar pernikahan dalam Islam.

Mahar pernikahan merupakan sejumlah harta dari pihak mempelai laki-laki yang ditujukan kepada mempelai perempuan.

Pemberian mahar pun harus dengan hati yang ikhlas dan tulus serta harus diniatkan untuk memuliakan wanita. Sebagaimana firman Allah SWT,

Berikanlah mahar (mas kawin) pada wanita yang kamu nikahi sebagai sebuah pemberian dengan penuh kerelaan…” (QS. An-Nissaa : 4).

Mahar dalam rukun dan syarat pernikahan adalah wajib hukumnya. Tanpa mahar, seorang lelaki tidak dapat menikahi wanita dan pernikahannya tidak sah.

Tujuan Mahar Dalam Islam

Perlu diketahui bahwa mahar itu hanya sebuah media atau wadah dan bukan menjadi tujuan utama.

Hal ini karena, tujuan pernikahan dalam Islam bukan berupa sarana untuk untuk mencari mahar yang nilai tinggi ataupun besar.

Mahar bukan juga sebagai bahan pameran kepada khalayak umum. Mahar memiliki makna yang mendalam.

Hikmah dari mahar ini menjadi pertanda bahwa seorang wanita selayaknya memang harus dihormati serta dimuliakan.

Islam Tidak Menentukan Besarnya Mahar

Biasanya, mahar menggunakan acuan mata uang. Perempuan bisa saja mengajukan mahar tertentu kepada calon suaminya dengan bentuk harta tertentu seperti uang, emas, tanah, rumah, kendaraan, atau benda berharga lainnya.

Selain itu, mahar juga dapat berupa Al-Quran dan alat shalat.

Dalam hal ini, pihak wanita diperbolehkan untuk menerima atau menolak mahar yang diberikan oleh laki-laki.

Inilah-mahar-dalam-Islam

Bentuk-Bentuk Mahar Dalam Islam

  1. Berbagai macam harta atau materi

Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah Telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. An-Nissaa : 24).

Sebagaimana yang disampaikan dalam ayat di atas, bentuk mahar bisa berbagai macam. Bisa berupa harta dengan nilai berapapun.

Harta dan materi ini tentunya disesuaikan dengan kemampuan dan kapasitas dari pihak laki-laki.

  1. Berupa jasa

Berkatalah dia (Syu’aib), ‘Sesungguhnya Aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, Maka Aku tidak hendak memberati kamu. dan kamu insya Allah akan mendapatiku termasuk orang- orang yang baik’.” (QS. Al-Qoshosh : 27).


Baca Juga:


Dalam ayat di atas dijelaskan jika mahar bisa berupa jasa, asalkan tidak sampai merendahkan derajat diri diantara suami dan istri.

Contoh-mahar-dalam-Islam

  1. Bermanfaat untuk wanita

Hal lain yang bisa digunakan juga adalah yang dapat memberikan manfaat bagi wanita. Misalnya, memberikan kemerdekaan pada budak sebagaimana zaman dahulu. Disampaikan dalam hadis, Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata,

Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerdekakan Shafiyah binti Huyayin (kemudian menikahinya) dan menjadikan kemerdekaannya sebagai mahar.” (HR Bukhari)

Selain itu ada juga hadis yang mengemukakan bahwa keislaman seseorang atau masuknya Islam seseorang dapat menjadi mahar dalam pernikahan.

Abu Thalhah menikahi Ummu Sulaim. Maharnya keislaman Abu Thalhah. Ummu Sulaim telah masuk Islam sebelum Abu Thalhah, maka Abu Thalhah melamarnya. Ummu Sulaim mengatakan,’Saya telah masuk Islam, jia kamu masuk Islam aku akan menikah denganmu.’ Abu Thalhah masuk Islam dan menikah dengan Ummu Sulaim dan keislamannya sebagai maharnya.” (HR. An-Nasa’I).

Sobat, tujuan untuk berkeluarga bukan untuk mendapatkan mahar, namun untuk membangun rumah tangga yang sakinah mawaddah, wa rahmah. Semoga artikel ini bermanfaat, ya!



Buat Tulisan
Gigi Nyeri saat Diving? Waspada Barodontalgia!
Previous
Gigi Nyeri saat Diving? Waspada Barodontalgia!
Inilah Cara Membuat Bibimbap, Nasi Campur Korea yang Sudah Mendunia!
Next
Inilah Cara Membuat Bibimbap, Nasi Campur Korea yang Sudah Mendunia!
Related Articles
Back to
top