x
Login

Or


New to Moslem Lifestyle? Sign up!
x
Forgot Password

Please enter the email address registered on your account


x Have an account? Login
Sign up


Or

x

Stay in the know

The latest news and fabulous ideas straight to your inbox.


Lifestyle   FYI

Kisah Mahar Paling Mulia yang Menggugah Hati


Mahar-paling-mulia

Durasi Baca: Hanya 1 Menit

Mahar merupakan kewajiban suami yang harus diberikan kepada istrinya. Ya, mahar adalah hak seorang wanita. Maka, yang paling berhak menentukan nilai mahar adalah sang pengantin wanita.

“Berikanlah mas kawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan.” (QS. an-Nisa: 4)

Kira-kira mahar seperti apa sih yang kamu inginkan? Menurut kamu berapa sih jumlah mahar paling besar?

Nah, berikut adalah kisah Rumaisha’ Ummu Sulaim binti Malhan atau dipanggil dengan Ummu Sulaim, seorang wanita yang memiliki mahar paling mulia yang pernah ada.

Mahar Paling Mulia Milik Ummu Sulaim

Ummu Sulaim adalah ibunda Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terkenal keilmuannya dalam masalah agama.

Beliau termasuk golongan pertama yang masuk Islam dari kalangan Anshar yang telah teruji keimanannya dan konsistensinya di dalam Islam. Bagaimana kisah mahar paling mulia ini bermulai?

Cinta Mulai Bersemi

Status Ummu Sulaim adalah seorang janda, ia dikenal dengan kesabaran dan ketabahan yang luar biasa. Dikarenakan ketabahannya tersebut, seorang lelaki pun jatuh hati kepada Ummu Sulaim.

Lelaki itu bernama Abu Thalhah, yang pada saat itu masih kafir memberanikan diri untuk melamar Ummu Sulaim dengan tawaran mahar yang sangat tinggi.

Penolakan Ummu Sulaim

Namun, bukannya tertarik dengan tawaran tersebut, Ummu Sulaim justru menyatakan ketidaktertarikannya terhadap gemerlap pesona dunia yang ditawarkan kepadanya.  

“Demi Allah, orang seperti Anda tidak layak untuk ditolak, hanya saja engkau adalah orang kafir, sedangkan aku adalah seorang muslimah sehingga tidak halal untuk menikah denganmu. Jika Anda mau masuk Islam maka itulah mahar bagiku dan aku tidak meminta selain dari itu.” [HR. An-Nasa’i]

Ketertarikan Abu Thalhah Terhadap Islam

Siapa disangka bahwa cinta Abu Thalhah bukan semata hanya terhadap Ummu Sulaim, melainkan juga jatuh cinta dengan Islam. Abu Thalhah pun menyampaikan ketertarikannya terhadap Islam dan memutuskan untuk memeluk Islam.

“Tetapi aku tidak mengerti siapa yang akan menjadi pembimbingku?” tanya Abu Thalhah.

“Tentu saja pembimbingmu adalah Rasululah sendiri,” tegas Ummu Sulaim.

Inilah-mahar-paling-mulia

Abu Thalhah Bersyahadat

Abu Thalhah pun bergegas pergi menjumpai Rasulullah yang pada saat itu tengah duduk bersama para sahabat. Melihat kedatangan Abu Thalhah, Rasulullah berseru,

“Abu Thalhah telah datang kepada kalian, dan cahaya Islam tampak pada kedua bola matanya.”


Baca Juga:


Ketulusan hati Ummu Sulaim benar-benar terasa mengharukan relung hati Abu Thalhah.

Ketegasan Ummu Sulaim yang hanya akan mau dinikahi dengan keislamannya Abu Thalhah tanpa sedikit pun tergiur oleh kenikmatan yang ia janjikan, membuat Abu Thalhah semakin mantap memeluk Islam dan menikahi sang ibunda Anas bin Malik.

Abu Thalhah merasa Ummu Sulaim adalah wanita paling pantas untuk menjadi istri dan ibu asuh anak-anaknya. Sikap Ummu Sulaim juga menyentuh hati Abu Thalhah, menjadi penyebab datangnya hidayah dari Allah untuk Abu Thalah, hingga tanpa terasa di hadapan Rasulullah, lisan Abu Thalhah basah mengulang-ulang kalimat,

Aku mengikuti ajaran Engkau, wahai Rasulullah. Aku bersaksi, bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan-Nya.”

Menikahnya Ummu Sulaim dan Abu Thalhah

Usai memeluk agama Islam, Abu Thalhah pun akhirnya menikahi Ummu Sulaim, dan maharnya adalah mahar paling mulia yang ada di dunia, yakni keislaman sang suami, Abu Thalhah. Hingga Tsabit –seorang perawi hadits- meriwayatkan dari Anas bin Malik,

“Sama sekali aku belum pernah mendengar seorang wanita yang maharnya lebih mulia dari Ummu Sulaim, yaitu keislaman suaminya.”

Abu Thalhah dan Ummu Sulaim pun menjalani kehidupan rumah tangga yang damai dan sejahtera dalam naungan cahaya Islam.

Kisah ini menjadi pelajaran bahwa mahar sebagai pemberian yang diberikan kepada istri tidak selalu identik dengan uang, emas, atau segala sesuatu yang bersifat keduniaan.

Namun, mahar bisa berupa apapun yang bernilai dan diridhai istri selama bukan perkara yang dibenci oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti kisah ini. Semoga kisah mahar paling mulia ini menginspirasi kita semua.

“Pernikahan yang paling besar keberkahannya ialah yang paling mudah maharnya.” [HR. Ahmad]

Nadya Maysyarah



Buat Tulisan
Jangan Ngaku Cinta Nabi Kalau Belum Mengenal Rasulullah Lebih Dekat
Previous
Jangan Ngaku Cinta Nabi Kalau Belum Mengenal Rasulullah Lebih Dekat
6 Tanda Umum Proses Pemulihan Pasca Melahirkan Normal Para Ibu
Next
6 Tanda Umum Proses Pemulihan Pasca Melahirkan Normal Para Ibu
Related Articles
Back to
top