x
Login

Or


New to Moslem Lifestyle? Sign up!
x
Forgot Password

Please enter the email address registered on your account


x Have an account? Login
Sign up


Or

x

Stay in the know

The latest news and fabulous ideas straight to your inbox.


Inspiring People   Figure
Kisah Penghafal Al-Quran Ahmad dan Kamil yang Dianggap Google Al-Quran

Kisah-penghafal-Al-Quran

Durasi Baca: Hanya 1 Menit

Salah satu ciri orang berilmu sesuai dengan standar Al-Quran adalah mereka yang menghafal Al-Quran. Allah Berfirman,

"Bahkan, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata, yang ada di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu". (QS. al-Ankabut: 49).

Setiap orangtua pasti selalu menginginkan anaknya menjadi penghafal Al-Quran agar mereka mendapat rahmat dan naungan dari Allah SWT. 

Terdapat contoh kisah penghafal Al-Quran dari salah satu pesantren di Yogyakarta, yaitu Ahmad dan Kamil.

Seperti apa kisah penghafal Al-Quran yang mampu menginspirasi dari Ahmad dan Kamil?

Ahmad dan Kamil Dianggap Sebagai Mesin Pencari Google Al-Quran

Semenjak video tentang baiknya Ahmad dan Kamil dalam menjawab pertanyaan lewat hafalan Al-Quran menjadi viral.

Ahmad dan Kamil tak hanya menarik perhatian masyarakat lewat hafalan dan suaranya yang indah.

Dibalik keistimewaannya dalam menghafal Al-Quran, ternyata Ahmad dan Kamil memiliki sederet kisah yang bisa menginspirasi kita semua.

Sejak kecil, Ahmad dan Kamil sudah ditinggalkan oleh ayahnya namun mereka tidak putus asa.

Ahmad dan Kamil menjadi penghafal Al-Quran saat masih belia. Tak butuh waktu lama, keduanya mampu menghafal aquran kurang dari satu tahun.

Ahmad yang saat ini baru menginjak usia 10 tahun mampu menghafal Al-Quran dalam waktu 8,5 bulan.

Sedangkan, Kamil yang menginjak usia lebih tua dengan Ahmad mampu menghafal sedikit lebih cepat, yakni 6,5 bulan.

Sekilas mereka tampak sama, padahal keduanya berasal dari keluarga yang berbeda. Ahmad merupakan warga asal Tegal dan Kamil adalah warga asli Magelang.

Keduanya dipertemukan saat masuk ke dalam Pesantren de Muttaqin yang berada di Yogyakarta.

Di tempat ini juga mereka mampu menyelesaikan hafalan Al-Quran 30 Juz.

Moslem-lifestyle-penghafal-al-quran

Pada awalnya, Ahmad atau Muhammad Ghozali Akbar memulai hafalannya dengan bekal 9 juz saat masuk ke pesantren.

Namun, menurut penuturan ayah asuhnya, yakni Muttaqin bahwa Ahmad memang memiliki hafalan 9 juz tetapi yang dihafal dengan baik hanya 1 juz.

Maka dari itu, Ahmad mulai diperbaiki hafalannya baru setelah itu menambah hafalannya.


Baca Juga:


Bertahap, semua dilakukannya dari setengah halaman, 1 halaman, 2 halaman, dan akhirnya Ahmad bisa menghafal Al-Quran sebanyak 5 halaman selama 1 hari.

Selain itu, Kamil atau Kamil Ramadhan yang saat datang ke pesantren hanya memiliki berat badan 14 kilogram.

Kamil dan keluarganya tinggal di pinggir hutan dalam kondisi yang sangat sederhana, tepatnya di Dusun Kajoran.

Awalnya, Kamil tidak bermaksud untuk tinggal di pesantren dan hanya diajak bermain serta bermalam. Sesudah itu, saat pagi menjelang, Kamil memutuskan untuk tinggal di pesantren.

Saat itu, Kamil tidak memilki hafalan Al-Quran seperti Ahmad dan mengawali hafalannya dari surat-surat pendek.

Dimulai dengan cara yang sama dengan Ahmad hingga akhirnya Kamil mampu menghafal Al-Quran 30 juz.  

Hadiah untuk Para Santri yang Mampu Menghafal Dalam Jangka Waktu Tertentu

Selain kegigihan mereka, ada hadiah untuk para santri yang mampu menghafal dalam jangka waktu tertentu. 

Bagi santri yang mampu menghafal Al-Quran 10 juz selama 6 bulan akan diajak berlibur ke Jakarta untuk mengunjungi berbagai tempat wisata. Sedangkan yang mampu menghafal 30 juz akan diajak pergi umroh.

 “anak yang sulit tidak bisa menghafal Al-Quran sama sekali, tetapi dengan ketulusan kesungguhan dan kesabaran dari guru, insyaa Allah dia bisa. Kuncinya adalah mau, tulus, bersungguh-sungguh, insyaa Allah bisa,” ujar Ayah asuh Ahmad dan Kamil.

Barulah setelah hafalan Al-Quran, kemudian dilanjutkan dan dilatih lagi dengan nama surat dan halaman, lalu nomor ayat.

Moslem-lifestyle-kisah-penghafal-al-quran-yang-menginspiratif

Begitu pula dengan menghafal Al-Quran berdasarkan barisnya. Hal inilah yang mendasari Ahmad dan Kamil dapat membacakan Al-Quran dengan beragam cara pengujian.

Masya Allah, jika Ahmad dan Kamil yang bisa dibilang memiliki kekurangan kasih sayang Ayah dan hidup dalam keterbatasan fasilitas bisa menghafal Al-Quran saja bisa menjadi penghafal Al-Quran.

Tapi bagaimana dengan kita? Sudahkah kita melakukan hal yang sama?

Kisah penghafal Al-Quran Ahmad dan Kamil tak hanya sampai di situ, keduanya juga memiliki cita-cita yang mulia.

Ahmad ingin menjadi dokter dan ulama yang terbaik, sedangkan Kamil ingin bertemu dengan kedua orangtuanya di syurga serta memberikan mahkota kemuliaan. Mari kita doakan semoga keduanya Allah beri kesempatan untuk memperoleh cita-citanya, aamiin.

Kisah penghafal Al-Quran di atas menyadarkan kita, bahwa keterbatasan bukan menjadi alasan untuk menjadi orang yang mudah menyerah dalam menggapai cita-cita. Selagi ada kemauan, pasti Allah akan memberikan jalan kemudahan untuk hambanya yang tetap mau berusaha.

Annisa Nurul Haqiqie



Buat Tulisan
Contoh Jual Beli Terlarang Menurut Islam yang Harus Dihindari
Previous
Contoh Jual Beli Terlarang Menurut Islam yang Harus Dihindari
Kakak dan Adik Bertengkar Itu Wajar, Kapan Orangtua Perlu Turun Tangan?
Next
Kakak dan Adik Bertengkar Itu Wajar, Kapan Orangtua Perlu Turun Tangan?
Related Articles
Back to
top