x
Login

Or


New to Moslem Lifestyle? Sign up!
x
Forgot Password

Please enter the email address registered on your account


x Have an account? Login
Sign up


Or

x

Stay in the know

The latest news and fabulous ideas straight to your inbox.


Lifestyle   FYI

Wajibkah Disunat? Ini Fakta Khitan Bagi Perempuan Dalam Islam


Khitan bagi perempuan

 Sumber: unicef.cn

Durasi Baca: Hanya 1 Menit

Bagi masyarakat muslim Indonesia, khitan bagi anak laki-laki adalah suatu hal yang biasa dan wajar dilakukan.

Namun, bagi kaum hawa, khitan tampaknya menjadi sebuah perkara yang sangat jarang dilakukan, bahkan bisa saja masih menjadi sesuatu yang tabu bagi sebagian orang.

Padahal syariat khitan bagi kaum hawa merupakan sesuatu yang benar-benar ada dalam syariat Islam, lho, Moslem Fellas.

Dilansir dari laman Konsultasi Syariah dan Muslimah, berikut fakta seputar khitan bagi perempuan dalam Islam yang wajib kamu ketahui!

Apa itu Khitan?

Dilansir dari Muslimah.co.id, khitan secara bahasa diambil dari kata (ختن) yang berarti memotong. Sedangkan al-khatnu berarti memotong kulit yang menutupi kepala dzakar dan memotong sedikit daging yang berada di bagian atas farji (clitoris) dan al-khitan sendiri adalah nama dari bagian yang dipotong tersebut (Lisanul Arab, Imam Ibnu Manzhur).

Imam Nawawi mengatakan,

“Yang wajib bagi laki-laki adalah memotong seluruh kulit yang menutupi kepala dzakar sehingga kepala dzakar itu terbuka semua. Sedangkan bagi wanita, maka yang wajib hanyalah memotong sedikit daging yang berada pada bagian atas farji.” (HR. Muslim, 1:543 dan Fathul Bari, 10:340).

Fakta Khitan Bagi Perempuan dalam Islam

Dari Abu Harairah radhiallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Lima hal yang termasuk fitrah, yaitu: mencukur bulu kemaluan, khitan, memotong kumis, mencabut bulu ketiak, dan memotong kuku.” (HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim).

1. Hukum Khitan bagi Wanita

Beberapa ulama memiliki perbedaaan pendapat apakah khitan bagi perempuan wajib atau sunnah. Nah, berikut ulasannya!

a. Ulama yang mewajibkan khitan

Ulama berpendapat bahwa hukum khitan pada wanita sama dengan laki-laki, kecuali ada dalil yang membedakannya, sebagimana sabda Rasulullah. Dari Ummu Sulaim radhiallahu’anha, Rasulullah bersabda,

“Wanita itu saudara kandung laki-laki.” (HR. Abu Daud, no. 236, Tirmidzi, no. 113, Ahmad 6:256). “Apabila bertemu dua khitan, maka wajib mandi.” (HR. Tirmidzi, no. 108, Ibnu Majah, no. 608, Ahamad 6:161).

Dari ‘Aisyah radhiallahu‘anha, ia mengatakan,

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Apabila seorang laki-laki duduk di empat anggota badan wanita dan khitan menyentuh khitan maka wajib mandi.” (HR. Bukhari dan Muslim) Dari Anas bin Malik radhiallahu’anhu mengatakan, Rasulullahi bersabda kepada Ummu ‘athiyah, ”Apabila engkau mengkhitan wanita biarkanlah sedikit, jangan potong semuanya, karena itu lebih bisa membuat ceria wajah dan lebih disenangi oleh suami.” (HR. Al-Khatib).


Baca Juga:


b. Ulama yang berpendapat sunnah

Melansir Konsultasi Syariah, menurut sebagian ulama lainnya, tidak ada dalil secara tegas yang menunjukkan wajibnya berkhitan bagi perempuan, juga karena khitan bagi laki-laki tujuannya membersihkan sisa air kencing yang najis yang terdapat pada tutup kepala dzakar, sedangkan suci dari najis merupakan syarat sahnya shalat. Sedangkan khitan bagi wanita tujuannya untuk mengecilkan syahwatnya, jadi ia hanya untuk mencari sebuah kesempurnaan dan bukan sebuah kewajiban. (Syarhul Mumti’, 1:134). Syaikhul Islam Ibnu Taymiyah pernah ditanya,

“Apakah wanita itu dikhitan?” Beliau menjawab, “Ya, wanita itu dikhitan dan khitannya adalah dengan memotong daging yang paling atas yang mirip dengan jengger ayam jantan. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, ‘biarkanlah sedikit dan jangan potong semuanya, karena itu lebih bisa membuat ceria wajah dan lebih disenangi suami.’ Alasannya, karena khitan bagi laki-laki untuk menghilangkan najis yang terdapat dalam penutup kulit kepala dzakar, sedangkan tujuan khitan wnaita adalah untuk menstabilkan syahwatnya. Karena apabila wanita tidak dikhitan maka syahwatnya akan sangat besar.” (Majmu’ Fatawa, 21:114).

Khitanan

Sumber: FamilyEducation

Lalu, Kapan Waktu Khitan Bagi Perempuan?

Terdapat beberapa hadist hasan yang menunjukkan bahwa khitan dilaksanakan pada hari ke 7 (tujuh) setelah kelahirannya, yaitu:

Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiallahu’anhuma, ia mengatakan,

“Bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakikahi Hasan dan Husein serta mengkhitan keduanya pada hari ketujuh.” (HR. Thabrani dan Baihaqi)

Dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu’anhu berkata,

“Terdapat tujuh perkara yang termasuk sunah dilakukan bayi pada hari ketujuh: Diberi nama, dikhitan,…” (HR. Thabrani)

Dari Abu Ja’far berkata, “Fathimah melaksanakan akikah anaknya pada hari ketujuh. Beliau juga mengkhitan dan mencukur rambutnya serta menyedekahkan perak dengan seberat rambutnya.” (HR. Ibnu Abi Syaibah)

Namun, meskipun begitu, khitan juga boleh dilakukan sampai anak agak besar, lho. Imam Al-Mawardi mengatakan, ”Khitan itu memiliki dua waktu, waktu wajib dan waktu sunah. Waktu wajib adalah masa baligh, sedangkan waktu sunah adalah sebelumnya. Yang paling bagus adalah hari ketujuh setelah kelahiran dan disunnahkan agar tidak menunda sampai waktu sunnah kecuali ada udzur.” (Fathul Bari, 10:342).

Itulah fakta seputar khitan bagi perempuan yang wajib kamu ketahui, Moslem Fellas. Semoga bermanfaat. Wallahu’alaum bishawab.

Nadya Maysyarah



Buat Tulisan
Tren Gowes Meroket Selama Pandemi, Ini 5 Tips Memilih Sepeda Bagi Pemula
Previous
Tren Gowes Meroket Selama Pandemi, Ini 5 Tips Memilih Sepeda Bagi Pemula
5 Model Lampu Tidur Unik untuk Kamarmu Makin Estetik
Next
5 Model Lampu Tidur Unik untuk Kamarmu Makin Estetik
Related Articles
Back to
top