x
Login

Or


New to Moslem Lifestyle? Sign up!
x
Forgot Password

Please enter the email address registered on your account


x Have an account? Login
Sign up


Or

x

Stay in the know

The latest news and fabulous ideas straight to your inbox.


Travel Religi   Wisata Religi

Filosofi Ondel-Ondel, Kesenian Betawi yang Menjadi Simbol Budaya Betawi


Durasi Baca: Hanya 1 Menit

Betawi merupakan suku yang mendiami Jakarta. Kebudayaan Betawi merupakan alkulturasi (percampuran) dari berbagai suku, seperti Jawa, Sunda, Ambon, bahkan Tionghoa dan Arab.

Karena itu, Betawi kaya akan budaya, tradisi, dan kesenian Betawi yang melimpah.

Bagi yang sudah familiar dengan kebudayaan Betawi pasti sudah tidak asing lagi dengan yang namanya ondel-ondel.

Pasalnya, boneka raksasa ini memang sering sekali berseliweran di jalanan ibu kota maupun di pentas kesenian rakyat.

Walaupun banyak yang takut dengan boneka raksasa ini, kehadiran ondel-ondel memang menjadi suatu ornamen penting dalam kekayaan budaya Betawi.

Ondel-ondel merupakan kesenian Betawi yang bentuknya seperti boneka raksasa. Terbuat dari bambu yang disiapkan sedemikian rupa sehingga mudah dipikul dari dalamnya.

Bagian tubuhnya menggunakan dongdang, yaitu sejenis kurungan ayam. Diameter lingkaran tubuh ondel-ondel sekitar 1,5 meter, sementara tingginya bisa mencapai 4 meter.

Bagian wajah berupa topeng atau kedok. Wajah ondel-ondel dibagi menjadi dua, yaitu wajah laki-laki berwarna merah dan perempuan berwarna putih.

Banyak yang meyakini bahwa warna merah dan putih mewakili dwi warna dalam bendera kebangsaan Indonesia.

Merah memiliki semangat juang dan pemberani, sementara putih melambangkan kesucian. Agar menarik, kepala ondel-ondel diberi rambut dengan menggunakan akar kelapa ondel-ondel.

Ondel-ondel mengenakan pakaian adat Betawi dengan warna yang terlihat mencolok. Tubuh bagian depannya diberi rongga kecil sebagai celah bagi penunggangnya untuk melihat keluar.

Pertunjukan ondel-ondel biasanya diiringi tanjidor atau kelompok orkes kampung, yang terdiri dari beberapa alat musik, seperti kendang, gong, kenong, bas, dan sukong.

Musik yang mengiringi ondel-ondel tidak tentu, tergantung dari masing-masing rombongan. Namun biasanya, melodi yang keluar dari alat musik sukong biasanya lagu-lagu tradisional betawi, seperti Kicir-kicir dan Jali-jali.


Baca Juga:


Konon, ondel-ondel sudah ada sejak zaman pra-Islam di Pulau Jawa. Ondel-ondel selalu dikaitkan dengan dunia magis. Dulunya, ondel-ondel memiliki makna sebagai penolak bala atau semacam azimat.

Saat itu, ondel-ondel dijadikan personifikasi leluhur penjaga kampung. Tujuannya untuk mengusir roh-roh halus yang bergentayangan mengganggu manusia.

Selain itu, ondel-ondel juga dipercaya menjaga kampung dari segala macam bahaya, ancaman, dan wabah penyakit.

Hal itulah yang kemudian menjawab pertanyaan mengapa wajah ondel-ondel dibuat begitu menyeramkan.

Dulu, untuk membuat ondel-ondel ada ritualnya, lho. Sebelum membuat ondel-ondel, biasanya disediakan sesajen yang berisi bubur merah putih, rujakan tujuh rupa, bunga-bungaan tujuh macam, asap kemenyan, dan sebagainya.

Demikian pula ondel-ondel yang sudah jadi, biasa pula disediakan sesajen dan dibakari kemenyan disertai mantera-mantera yang ditujukan kepada roh halus yang dianggap menunggui ondel-ondel.

Bila akan berangkat bermain pun, diadakan ritual dengan pembakaran kemenyan yang dilakukan oleh pimpinan rombongan, atau salah seorang yang dituakan.

Seiring perkembangan zaman yang semakin modern, pembuatan ondel-ondel tak harus menggunakan ritual dan fungsi dari ondel-ondel bukan lagi sebagai penolak bala, melainkan sebagai sebuah kesenian rakyat Betawi yang menghibur.

Pengrajin ondel-ondel pun juga jarang ditemukan. Hal ini tentu berimbas pada semakin sulitnya menemukan pementasan ondel-ondel di Jakarta.

Kalaupun ada hanya pada waktu-waktu tertentu saja, seperti pada ulang tahun Kota Jakarta, Hari Kemerdekaan, dan acara-acara budaya Betawi lainnya.

Sekarang, kelestarian ondel-ondel tetap terjaga dan nilai-nilai mistis yang semula kental hilang karena arus modernisasi dan higga kini kesenian tradisional asli Betawi ini pun tetap dicintai masyarakat Betawi. 

Dayana Cinthya



Buat Tulisan
 Janji-Janji Allah SWT Dalam Al-Quran, Hikmah Sabar untuk Hamba-Nya
Previous
Janji-Janji Allah SWT Dalam Al-Quran, Hikmah Sabar untuk Hamba-Nya
8 Jajanan Betawi yang Legendaris, Sudah Cobain?
Next
8 Jajanan Betawi yang Legendaris, Sudah Cobain?
Related Articles
Back to
top