x
Login

Or


New to Moslem Lifestyle? Sign up!
x
Forgot Password

Please enter the email address registered on your account


x Have an account? Login
Sign up


Or

x

Stay in the know

The latest news and fabulous ideas straight to your inbox.


Lifestyle   FYI

3 Alasan Para Istri Nabi Diangkat Derajatnya dengan Cara Dinikahi


Durasi Baca: Hanya 1 Menit

Memang banyak cerita melingkupi soal pernikahan Rasulullah SAW dengan istri-istrinya. Bahkan, tidak jarang dijadikan tameng bagi orang-orang yang tidak paham seutuhnya akan kondisi ini hanya demi memiliki istri lebih banyak.

Rasulullah SAW mempunyai istri lebih dari empat, sejumlah riwayat menyebutkan istri Nabi berjumlah 11 orang. Bahkan, beberapa beranggapan pernikahan tersebut berseberangan dengan tuntunan ajaran Islam itu sendiri yang tertuang dalam surah an-Nisaa’ ayat 3 bahwa pernikahan dibatasi hanya empat istri saja.

Pertimbangan Alasan Rasullulah Menikahi Para Istrinya

Padahal, sejumlah argumentasi yang cukup logis dan lebih rasional sebenarnya bisa dengan mudah mematahkan anggapan negatif apapun terhadap banyaknya jumlah para istri Nabi. Setidaknya ada tiga alasan sederhana Nabi memutuskan menikahi lebih dari empat wanita.

Alasan yang pertama, pernikahan tersebut karena faktor sosial. Pernikahannya dengan Khadijah binti Khuwailid termasuk memiliki selisih umur yang cukup jauh. Kala itu, Rasulullah berumur 25 tahun sedangkan Khadijah sudah 40 tahun.

Khadijah merupakan istri yang amat tulus selama berumah tangga bersama Rasulullah, selain itu juga istri yang ikhlas memberikan seluruh hartanya demi menyenangkan suaminya. Ia pun selalu tulus membantu Rasulullah dalam segala perjalanannya.

Pernikahan Rasulullah dengan Saudah binti Zam’ah yang saat itu statusnya janda anak empat ialah dengan tujuan mencarikan pendamping yang bisa mengurus keempat anaknya tersebut.

Saudah binti Zam’ah bin Qois merupakan istri Rasulullah yang terkenal penuh dengan canda dan menyenangkan bagi Nabi. Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh Ibrahim AN-Nakha’i dalam kisahnya,

“Saudah pernah berkata kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah tadi malam aku shalat di belakangmu, ketika ruku’ punggungmu menyentuh hidungku dengan keras, maka aku pegang hidungku sebab takut kalau keluar darah,” maka tertawalah Rasulullah.” Terkisah, Saudah memang biasa membuat tertawa Sang Nabi dengan candanya.

Alasan yang kedua, pernikahan Rasulullah didorong oleh faktor transendental (ilahiyah). Misalnya pernikahannya dengan Aisyah binti Abu Bakr As-Shiddiq. Kesuciannya telah diakui Allah SWT dari atas langit ketujuh, dan Malaikat telah menampakkan Aisyah kepada Rasul sebelum Beliau menikahinya. Rasulullah SAW bersabda,

“Aku melihatmu (Aisyah) dalam mimpiku selama tiga malam. (Dalam mimpi)  malaikat datang membawamu dengan mengenakan pakaian sutra putih. Malaikat tersebut berkata, ‘Ini adalah istrimu’. Kemudian kusingkapkan penutup wajahmu, ternyata itu dirimu. Aku bergumam, ‘Seandainya mimpi ini datangnya dari Allah, pasti Dia akan menjadikannya nyata.” (HR. Bukhari dan Muslim).


Baca juga:


Alasan yang ketiga, di antara beberapa faktor pemicu pernikahan Rasulullah juga ada aspek politik. Pernikahan tersebut ialah untuk merekatkan persatuan dan menghindari permusuhan, maupun membebaskan tahanan.

Salah satunya, pernikahan beliau dengan Juwairiyah binti al-Harits, pemuka Bani Mushthaliq dari Khaza’ah, yang pernah ditahan umat Islam.

Selain itu, pernikahan beliau dengan Ummu Habibah Ramlah binti Abu Sufyan juga memiliki pengaruh besar terhadap penyebaran agama Islam sekaligus mengikis perlawanan Abu Sufyan terhadap Islam.

Pernikahan Rasul dengan Hafshah binti Umar bin Khattab juga untuk menghormati Umar. Hafshah terkenal sebagai ahli ibadah, bahkan ia disebut sebagai shawwamah (wanita rajin puasa) dan qawwamah (wanita rajin shalat malam).

Salah satu istri Nabi ini pernah mengemban amanah yang luar biasa, yakni menjaga mushaf yang telah ditulis di zaman Abu Bakr dan Umar. Pasalnya, Hafshah memang terkenal dengan kemampuan hafalan Al-Qur’annya.

Meski memang beberapa pernikahan itu dilandasi tugas Rasul yang utama yaitu menegakkan ajaran Allah SWT. Namun, bukan berarti Rasulullah tidak menyayangi secara tulus atau berlaku tidak adil.

Beliau senantiasa memberikan perlakuan yang sama dan menunjukkan rasa sayangnya dengan baik. Para istri Nabi Muhammad SAW merupakan para wanita yang mulia, baik dalam kehidupan di dunia maupun di akhirat.

Allah secara langsung memerintahkan Rasulullah untuk berpoligami selain untuk berdakwah, adalah untuk menunjukkan segala keutaamaan sifat para ummul mukminin. Wallahu A'lam Bishawab

Danur K Atsari



Buat Tulisan
Rasakan Pengalaman Libur Berbeda di Desa Mangunan, Wisata Alam Bantul
Previous
Rasakan Pengalaman Libur Berbeda di Desa Mangunan, Wisata Alam Bantul
5 Objek Wisata di Dieng yang Seru dan Menakjubkan
Next
5 Objek Wisata di Dieng yang Seru dan Menakjubkan
Back to
top