x
Login

Or


New to Moslem Lifestyle? Sign up!
x
Forgot Password

Please enter the email address registered on your account


x Have an account? Login
Sign up


Or

x

Stay in the know

The latest news and fabulous ideas straight to your inbox.


Lifestyle   FYI

Bagaimanakah Hukum Kredit Emas dalam Islam?


Hukum-kredit-emas

Durasi Baca: Hanya 1 Menit

Logam mulia atau emas merupakan salah satu bentuk produk investasi yang sangat digemari masyarakat Indonesia dari berbagai kalangan.

Investasi emas juga termasuk bentuk investasi yang lazim dari zaman dahulu. Pembelian emas dalam kategori investasi memberikan banyak keuntungan, seperti mudah dicairkan dan bebas pajak.

Sementara dalam kacamata Islam, para ulama berbeda pendapat dalam hal jual beli perhiasan dari emas dan perak secara tidak tunai. Bagaimana penjelasan hukum kredit emas sebenarnya?

Hukum Kredit Emas, Begini Penjelasannya

Bila tertarik investasi perhiasan emas, tentu ada baiknya kita mengetahui juga dalam hukum Islam. Dilansir dari laman Rumaysho, berikut beberapa informasi lebih lanjut mengenai hukum kredit emas.

Pendapat jumhur (mayoritas) ulama mengenai hal ini lebih mendekati kebenaran dengan beberapa alasan:

1. Ijma’ (kesepakatan) ulama bahwa jual beli emas dan perak harus tunai

Sebagaimana keterangan an-Nawawi, haram hukumnya melakukan transaksi kredit untuk yang sejenis atau beda jenis, jika keduanya barang ribawi.

Seperti emas dengan emas, atau emas dengan perak, atau gandum dengan gandum atau gandum dengan kurma. Hal ini disepakati kaum muslimin.

(Al-Majmu’, 10/68). Sementara pendapat yang tidak sejalan dengan ijma’, tidak bisa diterima.

Ternyata-seperti-ini-hukum-kredit-emas

2. Pendapat jumhur sejalan dengan teks hadist

Teks hadist menyatakan, “Emas dengan emas, perak dengan perak,… dst” Rasulullah SAW tidak mengatakan, “Dinar dengan dinar, dirham dengan dirham… dst” yang mana merupakan alat tukar.


Baca Juga:


Maka artinya, alasan barang berstatus sebagai barang ribawi sebab merupakan emas atau perak, bukan karena semata alat tukar.

3. Sejalan dengan hadist dari Fadhalah bin Ubaid RA

“Ketika peristiwa Khaibar, Aku membeli kalung seharga 12 dinar berupa emas yang ada permatanya. Kemudian aku pisahkan, ternyata emasnya lebih dari 12 dinar. Aku sampaikan itu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, perintah beliau, ‘Jangan dijualbelikan sampai dipisahkan.’” (HR. Muslim 4160 & Ahmad 24689).

Rasul perintahkan untuk dipisahkan agar diketahui beratnya, sehingga memungkinkan untuk dijual dengan dinar dengan kuantitas yang sama.

Sekalipun emas yang dimiliki Fadhalah bentuknya kalung (tentu saja bukan alat tukar) tapi Rasul tetap memberlakukannya sebagai barang ribawi. Maka dari itu, beratnya harus diketahui ketika hendak dijual.

Itulah hukum kredit emas yang perlu diketahui, apabila masih belum jelas dan ragu ada baiknya mencari informasi lebih banyak misalnya dengan bertanya para ulama lain. Semoga bermanfaat!

Danur K Atsari



Buat Tulisan
Waktu Shalat yang Berat Dijalankan, Mengapa Bisa?
Previous
Waktu Shalat yang Berat Dijalankan, Mengapa Bisa?
Sejarah Nabi Adam Turun ke Bumi
Next
Sejarah Nabi Adam Turun ke Bumi
Related Articles
Back to
top