x
Login

Or


New to Moslem Lifestyle? Sign up!
x
Forgot Password

Please enter the email address registered on your account


x Have an account? Login
Sign up


Or

x

Stay in the know

The latest news and fabulous ideas straight to your inbox.


Lifestyle   Parenting
Apa Bahaya Penggunaan Gadget dan Menonton TV Pada Anak yang Tak Dibatasi?

Gadget-dan-menonton-TV

Durasi Baca: Hanya 1 Menit

Saat ini, beberapa orang tua tidak ragu lagi memberikan kebebasan pada anaknya yang masih dalam masa pertumbuhan untuk bermain gadget dan menonton TV.

Namun, penggunaan barang elektronik seperti untuk menonton video, bermain game dan lain sebagainya terkadang kurang dibatasi.

Tidak sedikit orang tua yang menjadikan gadget sebagai alat untuk membuat anak-anaknya tetap tenang dan tidak mengamuk atau tantrum di depan umum.

Tapi sebenarnya, begitu banyak dampak buruk yang akan didapat oleh anak saat ia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari gadget atau menonton televisi.

Anak-anak terutama yang masih dalam masa pertumbuhan harus memiliki batas idealnya dalam penggunaan gadget atau menonton televisi agar dampak buruknya dapat dihindari.

Pentingnya Batasi Penggunaan Gadget dan Menonton TV pada Anak

KPI melaporkan bahwa anak-anak Indonesia menjadi peringkat teratas dalam hal menonton siaran televisi dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya.

KPI juga menjelaskan bahwa rata-rata anak Indonesia menonton TV hingga 5-7 jam tiap harinya, dan anak-anak di nagara ASEAN lainnya menghabiskan waktu sekitar 2-3 jam per hari.

Terdapat penelitian yang diterbitkan Archives of Disease in Childhood tahun 2017, ia mengatakan bahwa anak-anak yang menonton TV lebih dari 3 jam setiap harinya akan lebih berisiko untuk mengalami diabetes tipe 2 dan penyakit jantung.

Sebuah studi lain asal Inggris juga mengungkapkan bahwa anak-anak yang menonton TV lebih dari 3 jam setiap hari berisiko mengalami obesitas di usia 30 tahun.

Anak-terlalu-sering-menonton-TV

Dampak yang timbul akibat kebiasaan bermain gadget dan menonton TV yang tidak dibatasi bukan hanya buruk bagi kesehatan fisik.


Baca Juga:


Studi yang dilakukan oleh tim peneliti dari University of Otago di New Zealand dan dimuat di jurnal Pediatric membuktikan bahwa, terlalu sering menonton TV akan terkait dengan perkembangan sifat sosiopatik ketika anak beranjak dewasa.

Penelitian yang dipresentasikan di Pediatric Academic Societies Meeting di San Francisco juga menyebutkan, balita yang sering menggunakan gadget untuk bermain game, menonton video dan sebagainya berisiko mengalami keterlambatan bicara.

Anak-anak yang lebih sering menggunakan gadget untuk berinteraksi di media sosial secara berlebihan akan berisiko mengalami gangguan tidur, seperti insomnia, yang akan mengganggu kecemasan dan depresi.

Menurut American Academy of Pediatrics (AAP), orang tua sama sekali tidak boleh memberikan atau membiarkan anak-anak mereka untuk menggunakan perangkat elektronik apa saja, hingga anak berusia 18 bulan.

Saat usia anak berkisar 18-14 bulan, orang tua boleh mulai memperkenalkan anak-anak mereka dengan konten edukatif yang ada di dunia digital.

Durasi untuk anak-anak bermain gadget dan menonton TV yang berusia 2-5 tahun ialah maksimal 1 jam per hari.

Konten yang mereka dapatkan juga harus bersifat edukatif. Pastinya orang tua harus mendampingi anak-anak mereka saat menggunakan perangkat elektronik apapun, mengawasi apa yang mereka tonton dan mainkan.

Bagi anak-anak yang berusia lebih dari 6 tahun, American Academy of Pediatrics memberikan anjuran durasi, yaitu 2 jam setiap harinya untuk menonton TV.

Untuk media sosial sendiri yang biasanya mulai diakses oleh anak-anak remaja, orang tua harus bisa membatasi penggunaan media sosial pada anak-anak mereka, yaitu 1,5 hingga 2 jam per hari. 

Sobat Moslem, jangan lupa untuk batasi anak dalam menggunakan gadget dan menonton TV, ya! Semoga bermanfaat.



Buat Tulisan
Kemasan Susu Cair Terbuka, Apakah Aman Diminum?
Previous
Kemasan Susu Cair Terbuka, Apakah Aman Diminum?
Apakah Aman Menghangatkan Makanan Bayi Kembali?
Next
Apakah Aman Menghangatkan Makanan Bayi Kembali?
Related Articles
Back to
top