x
Login

Or


New to Moslem Lifestyle? Sign up!
x
Forgot Password

Please enter the email address registered on your account


x Have an account? Login
Sign up


Or

x

Stay in the know

The latest news and fabulous ideas straight to your inbox.


Lifestyle   FYI

Fungsi Hadits dalam Islam yang Perlu Kamu Tahu


Fungsi-Hadits-dalam-Islam

Durasi Baca: Hanya 1 Menit

Hadits merupakan landasan hukum Islam yang kedua setelah Al-Quran. Sebenarnya, apa fungsi hadits dalam Islam yang sesungguhnya?

Hadits mempunyai makna segala perkataan (sabda), perbuatan, dan ketetapan lainnya dari Nabi Muhammad SAW yang dijadikan hukum syariat islam selain Al-Quran.

Ada banyak sekali ulama-ulama ahlul hadits. Namun yang paling terkemuka ada 7 orang, yaitu Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Turmudzi, Imam Ahmad, Imam Abu Daud, Imam Ibnu Majah, dan Imam Nasa’i.

Pada dasarnya, fungsi utama hadits yaitu sebagai menegaskan, memperjelas dan menguatkan hukum-hukum dan hal lain yang ada di Al-Quran.

Fungsi Hadits dalam Islam yang Sesungguhnya

Para ulama sepakat setiap umat Islam diwajibkan untuk mengikuti perintah yang ada hadits-hadits shahih.

Dengan berpegang teguh kepada Al-Quran dan Al-hadits, niscaya hidup kita dijamin akan selalu pada jalan yang lurus. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Aku telah tinggalkan pada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.” (Hadits Shahih Lighairihi, H.R. Malik; al-Hakim, al-Baihaqi, Ibnu Nashr, Ibnu Hazm. Dishahihkan oleh Syaikh Salim al-Hilali di dalam At Ta’zhim wal Minnah fil Intisharis Sunnah, hlm. 12-13).

Berikut ini adalah fungsi hadits dalam Islam yang perlu kamu pahami:

1. Bayan Al- Taqrir (memperjelas isi Al-Quran)

Fungsi Hadits sebagai bayan Al-Taqrir, yaitu memperkuat isi dari Al-Quran. Sebagai contoh hadits berikut terkait perintah berwudhu:

Rasulullah SAW bersabda, tidak diterima shalat seseorang yang berhadats sampai ia berwudhu.” (HR. Bukhori dan Abu Hurairah).

Hadits di atas mentaqrir dari surat Al-Maidah ayat 6 yang berbunyi:

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah muka dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki.” (QS. Al-Maidah: 6)

2. Bayan At-Tafsir (menafsirkan isi Al-Quran)

Fungsi hadits sebagai bayan At-Tafsir berarti memberikan tafsiran (perincian) terhadap isi Al-Quran yang masih bersifat umum (mujmal) serta memberikan batasan-batasan (persyaratan) pada ayat-ayat yang bersifat mutlak (taqyid).

Misalnya hadits sebagai bayan At-Tafsir adalah penjelasan Nabi Muhammad SAW mengenai hukum pencurian.

Rasulullah SAW didatangi seseorang yang membawa pencuri, maka beliau memotong tangan pencuri tersebut dari pergelangan tangan

Hadits di atas menafsirkan surat Al-maidah ayat 38:

Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah.” (QS. Al-Maidah: 38).


Baca Juga:


Dalam Al-Quran, Allah memerintahkan untuk mengukum pencuri dengan memotong tangannya. Ayat ini masih bersifat umum, lalu Nabi SAW memberikan batasan bahw ayang dipotong dari pergelangan tangan.

Apa-Saja-Fungsi-Hadits-dalam-Islam

3. Bayan At-Tasyri’ (memberi kepastian hukum Islam yang tidak ada di Al-Quran)

Hadits sebagai bayan At-Tasyri’ berarti pemberi kepastian hukum atau ajaran Islam yang tidak dijelaskan dalam Al-Quran.

Biasanya Al-Quran hanya menerangkan pokok-pokoknya saja. Sebagaimana contohnya hadits mengenai zakat fitrah berikut:

“Rasulullah telah mewajibkan zakat fitrah kepada umat Islam pada bulan Ramadhan satu sha’ kurma atau gandum untuk setiap orang, baik merdeka atau hamba, laki-laki atau perempuan.” (HR. Muslim).

4. Bayan Nasakh (mengganti ketentuan terdahulu)

Secara etimologi, An-Nasakh memiliki banyak arti, di antaranya at-taqyir (mengubah), al-itbal (membatalkan), at-tahwil (memindahkan), atau ijalah (menghilangkan).

Para ulama mendefinisikan Bayan An-nasakh berarti ketentuan yang datang kemudian dapat menghapuskan ketentuan yang terdahulu, sebab ketentuan yang baru dianggap lebih cocok dengan lingkungannya dan lebih luas. Salah satu contohnya yakni:

 “Tidak ada wasiat bagi ahli waris” (Shahiih Sunan Ibni Majah no. 2194).

Hadits ini menasakh surat QS.Al-Baqarah ayat 180:

Diwajibkan atas kamu, apabila seseorang diantara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabat secara ma’ruf. (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah: 180).

Fungsi hadits sebagai Bayan Nasakh ini masih terjadi perdebatan di kalangan ulama. Para ulama Ibn Hazm dan Mutaqaddim membolehkan menasakh Al-Quran dengan segala hadits walaupun hadits ahad.

Kelompok Hanafiyah berpendapat boleh menasakh dengan hadits masyhur tanpa harus matawatir. Sedangkan para mu’tazilah membolehkan menasakh dengan syarat hadits harus mutawatir. Selain itu, ada juga yang berpendapat Bayan Nasakh bukanlah fungsi hadits.

Sobat Moslem, itulah berbagai fungsi hadits dalam Islam yang perlu kamu pahami. Semoga bisa menambah wawasan kamu, ya!



Buat Tulisan
Begini Cara Memilih Tensimeter yang Benar untuk di Rumah
Previous
Begini Cara Memilih Tensimeter yang Benar untuk di Rumah
Aturan Umum Table Manner yang Perlu Kamu Tahu
Next
Aturan Umum Table Manner yang Perlu Kamu Tahu
Related Articles
Back to
top