x
Login

Or


New to Moslem Lifestyle? Sign up!
x
Forgot Password

Please enter the email address registered on your account


x Have an account? Login
Sign up


Or

x

Stay in the know

The latest news and fabulous ideas straight to your inbox.


Lifestyle   FYI

Berselisih Itu Tidak Baik, Inilah Etika Berbeda Pendapat Ala Rasulullah


etika-berbeda-pendapat

Durasi Baca: Hanya 1 Menit

Kelancaran berbagai informasi memang mau tidak mau memengaruhi derasnya opini di tengah-tengah masyarakat.

Apalagi di zaman sekarang, seakan-akan opini merupakan hal yang perlu dipaksakan untuk disepakati bersama.

Padahal dengan kebebasan berpendapat, manusia seharusnya belajar untuk lebih menghargai satu sama lain dan mengambil hikmah ada banyaknya perspektif dari sebuah hal.

Di tengah maraknya berbagai perbedaan pendapat, kita perlu senantiasa menerapkan etika berbeda pendapat.

Rasulullah SAW beserta sahabatnya yang mulia sejak dahulu telah memberikan teladan kepada kita mengenai cara menyikapi perbedaan pendapat sehingga tidak berakibat negatif.

Sebaliknya, kita justru bisa memberi pengaruh positif yang bermanfaat bagi masyarakat bahkan bangsa dan negara.

Etika Berbeda Pendapat Sesuai Ajaran Islam

Sejatinya suatu perbedaan (ikhtilaf) erat dengan perbedaan pendapat atau pemikiran, sementara istilah perselisihan/salah paham (khilaf) lebih terkait dengan antar orang per orang.

Berdasarkan hal ini, sudah ada sikap atau etika berbeda pendapat yang dicontohkan Rasulullah SAW. Keseluruhan intinya adalah dengan terlebih dahulu mendengar seluruh pendapat yang berbeda-beda dari para sahabatnya yang mulia.

Terdapat banyak sekali peristiwa dan kasus yang membuktikan sikap Rasulullah tersebut. Prinsip mendengar dan bermusyawarah yang diterapkan Sang Nabi tak lain merupakan perwujudan dari firman Allah SWT berikut,

“...sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Maka itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah pada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS. Ali Imran: 159).

etika-berbeda-pendapat


Baca Juga:


Firman Allah SWT yang lain yaitu,

“...(bagi) orang-orang yang mematuhi seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sementara urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” (QS. as-Syura: 38).

Di berbagai kesempatan, Rasulullah SAW selalu berusaha menampung pendapat dari para sahabat baru selanjutnya menyaring sekaligus memilih pendapat terbaik dan bermanfaat.

Contoh sederhana dari hal ini ketika sahabat Abdullah bin Mas’ud RA pernah menyaksikan sahabat Usman bin Affan RA shalat di Mina sebanyak empat rakaat. Kala itu berkata,

“Inna lillahi wa inna ilayhi raji’un (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya kami kembali). Sesungguhnya aku pernah shalat bersama Rasulullah SAW juga bersama Abu Bakar dan Umar hanya dua rakaat.”

Meski begitu, Ibnu Mas’ud tetap shalat bersama Usman bin Affan sebanyak empat rakaat. Saat ditanya kenapa dia melakukan hal itu, dia menjawab: “Berselisih itu tidak baik”.

Dia tidak ingin memecah kesatuan jamaah atau menjadi penyebab tercerai-berainya umat. Para sahabat juga memegang teguh budi pekerti yang luhur serta keteguhan hati.

Maka dari itu, kita juga harus bisa mencontoh untuk selalu berusaha mengedepankan persatuan umat daripada hal-hal lainnya.

Etika berbeda pendapat dalam Islam pada dasarnya terbagi beberapa prinsip penting, di antaranya:

  • Memanfaatkan setiap perbedaan pandangan untuk memperkaya pemikiran dan memilih yang terbaik
  • Selalu berbaik sangka terhadap orang yang berbeda pendapat. Tidak hanya itu, Rasul sendiri bahkan senantiasa berharap, pendapat yang benar adalah pendapat orang lain tersebut.
  • Tidak menuruti hawa nafsu.
  • Konsisten dan berkomitmen hanya demi kebenaran, menjalankannya berdasarkan prioritas dan hal-hal yang memberikan manfaat.
  • Selalu mengedepankan persatuan dan soliditas umat.

Dengan demikian, kita harus menyadari betapa sangat dibutuhkan cara menyikapi pendapat yang berseberangan dengan pendapat kita sendiri.

Penerapan etika berbeda pendapat dapat membawa umat terhindar dari prasangka buruk dan hawa nafsu, dan sebaliknya akan terbimbing untuk selalu mengikuti kebenaran. Insya Allah.

 

Danur K Atsari



Buat Tulisan
6 Tips Gemas Dekorasi Rumah Warna Pastel
Previous
6 Tips Gemas Dekorasi Rumah Warna Pastel
Resep Sayur Oyong Bening Segar Favorit Keluarga
Next
Resep Sayur Oyong Bening Segar Favorit Keluarga
Related Articles
Back to
top