x
Login

Or


New to Moslem Lifestyle? Sign up!
x
Forgot Password

Please enter the email address registered on your account


x Have an account? Login
Sign up


Or

x

Stay in the know

The latest news and fabulous ideas straight to your inbox.


Lifestyle   FYI

Bertanyalah Masalah Agama Pada Ahli Ilmu


Durasi Baca: Hanya 1 Menit

Ketika bingung dalam permasalahan agama, bertanya kepada ahli ilmu adalah hal yang dianjurkan. Terutama di era yang serba mudah mendapatkan informasi seperti saat ini, seringkali kita kesulitan untuk mengetahui mana yang benar dan tidak. Dalam islam, permasalahan tentang ilmu ini tidak dapat disepelekan. Orang awam bahkan tidak dianjurkan untuk berbicara suatu hal tanpa ilmu.

Allah berfirman yang artinya,

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta "ini halal dan ini haram", untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung.” (QS An-Nahl:116)

Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa orang awam yang berfatwa tanpa tahu ilmunya diibaratkan dengan berdusta kepada Allah swt. Oleh karena itu, mereka yang melakukan perbuatan tersebut dianggap melakukan dosa besar. Untuk menghindari hal tersebut, mereka diwajibkan untuk bertanya terhadap ahli ilmu atau biasa disebut ulama untuk perihal agama.

Lalu, sosok seperti apa yang dapat disebut sebagai ulama? 

Berdasarkan kitab Tadzkiratus Saami wal mutakallim Fii Adabil ’Alim Wal Muta’alim karya Ibnu Jama’ah, terdapat dua hal yang dapat dijadikan patokan, yaitu:

  1. Mereka yang mempunyai kemampuan ijtihad
  2. Mereka yang mampu menyelaraskan perkataan dan perbuatannya

Pada poin pertama, ahli ilmu diharuskan mempunyai kemampuan ijtihad, yaitu menggali hukum syariat dari dalil-dalilnya secara terperinci.


Baca Juga:


Tentu saja bukan hal yang mudah, terdapat beberapa syarat agar seseorang dapat dikatakan mempunyai ijtihad. Beberapa di antaranya adalah berpengetahuan luas tentang Al-Qur’an, Hadits, menguasai kaidah-kaidah ushul fiqh, dan masih banyak lagi.

Namun, ijtihad saja ternyata belum cukup untuk disebut sebagai ahli ilmu. Mereka juga harus mampu menyelaraskan perkataan dan perbuatannya dalam kehidupan yang nyata. Jadi, dua poin di atas harus saling melengkapi di dalam diri seorang ahli ilmu.

Lalu, bagaimana cara mengetahui jika seseorang mempunyai dua hal seperti yang disebutkan di atas? 

Terdapat empat cara yang dapat digunakan untuk mengetahuinya, yaitu:

  1. Jika ia berbicara tentang agama di antara para ahli ilmu, maka tidak ada yang mengingkari perkataannya. Bisa dibilang, ilmunya diakui oleh para ahli ilmu lainnya.
  2. Perkataannya dikutip atau oleh para ahli ilmu lainnya.
  3. Jika para ahli ilmu merekomendasikan sosoknya untuk dijadikan sumber rujukan bertanya sesuatu.
  4. Melalui imtihan atau ujian. Sebelum disebut sebagai ulama, dan turun untuk menyebarkan ilmunya di masyarakat, ia harus diuji terlebih dahulu. Sama halnya dengan pendidikan formal, ia diwajibkan untuk melakukan ujian atau sidang untuk meraih sebuah gelar serta diakui keilmuannya, dan para ahli ilmu terdahulu lah yang akan mengujinya. 

Melihat berbagai syarat di atas, menjadi seorang ahli ilmu atau ulama memang bukan hal yang mudah. Terlebih lagi, apa yang disampaikannya nanti akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. 

Sekarang, kamu sudah tahu kan ahli ilmu yang seperti apa yang bisa dijadikan rujukan untuk bertanya masalah agama?

Siti Nurhikmah



Buat Tulisan
5 Inspirasi Tampil Modis Dengan Hoodie Style
Previous
5 Inspirasi Tampil Modis Dengan Hoodie Style
7 Nama Makanan Jepang Paling Khas yang Belum Banyak Orang Tahu
Next
7 Nama Makanan Jepang Paling Khas yang Belum Banyak Orang Tahu
Related Articles
Back to
top