x
Login

Or


New to Moslem Lifestyle? Sign up!
x
Forgot Password

Please enter the email address registered on your account


x Have an account? Login
Sign up


Or

x

Stay in the know

The latest news and fabulous ideas straight to your inbox.


Lifestyle   FYI

Apakah Islam Memperbolehkan Berbohong Demi Kebaikan?


Dalam agama Islam, tentu saja kita dilarang untuk melakukan hal keburukan termasuk berbohong. Tapi bagaimana jika kita dalam keadaan yang mengharuskan kita berbohong demi kebaikan? 

Berbohong adalah perbuatan yang diharamkan atau benar-benar dilarang dalam agama. Bahkan tidak ada keringanan untuk berbohong dalam Islam, kecuali karena dalam keadaan genting atau keadaan yang mendesak. Hal itu pun masih dalam batasan yang sempit. Mengapa? Karena kebaikan yang kita maksud itu belum tentu kebaikan yang Allah maksud.

Sebenarnya ada satu cara yang mendekati bohong, tetapi bukan berbohong. Dalam kondisi ‘genting’, seseorang bisa menggunakan cara ini untuk mewujudkan keinginannya tanpa harus terjerumus ke dalam jurang kebohongan.


Baca Juga:


Cara ini, bernama  ma’aridh atau tauriyah. Disini, kita dapat menggunakan kata yang ambigu, atau kata-kata yang memiliki dua arti. Sehingga orang kita ajak bicara akan membuat persepsi sendiri.

Sebagai contoh, ada sebuah kisah yang telah disebutkan dalam hadist riwayat Bukhari, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu:

Nabi Ibrahim pernah berjalan bersama istrinya Sarah. Mereka berdua pun melewati daerah yang dipimpin oleh penguasa yang zhalim. Ketika itu rakyatnya melihat istri Ibrahim dan melaporkan kepada raja, “di sana ada lelaki bersama seorang wanita yang sangat cantik” sementara penguasa ini punya kebiasaan merampas istri orang dan membunuh suaminya. Penguasa itu pun mengutus orang untuk menanyakannya. “Siapa wanita ini?” tanya seorang prajurit. “Dia adalah saudariku.” Jawab Ibrahim. Setelah menjawab, Ibrahim mendatangi istrinya dan mengatakan:

“Wahai Sarah, tidak ada di muka bumi ini orang yang beriman selain aku dan dirimu. Orang tadi bertanya kepadaku, aku sampaikan bahwa kamu adalah saudariku. Karena itu, jangan engkau anggap aku berbohong…”

 

Kata “saudari” yang diucapkan Nabi Ibrahim ini adalah kata ambigu bisa bermakna saudara seagama atau saudara kandung. Yang di maksud Nabi Ibrahim adalah saudara seagama atau seiman, tetapi perkataan yang di pahami oleh prajurit itu adalah saudara kandung.  Inilah contoh berbohong yang diperbolehkan, berbohong untuk menghindari terjadinya maslah yang lebih besar.

Rasulullah SAW bersabda:

“Bukan seorang pendusta, orang yang berbohong untuk mendamaikan antar-sesama manusia. Dia menumbuhkan kebaikan atau mengatakan kebaikan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maksudnya, jika ada dua kelompok yang berselisih, lalu datang kita untuk menyampaikan kepada kelompok yang satu tentang kelompok lainnya. Sehingga mereka saling memaafkan dan berdamai. Sedangkan sebenarnya kita tidak mengatakan hal yang sebenarnya dan berbohong demi kebaikan. Ini tidak termasuk dalam berdusta.

Meskipun begitu, kebohongan harus tetap dihindari. Karena jika kita berbohong untuk menutup satu kesalahan, maka kita akan terus berbohong untuk kesalahan yang telah kita tutupi itu. Semoga Allah memudahkan jalan kita agar tidak terjerumus dalam jurang kebohongan. Aamiin..

Fifi Jacob



Buat Tulisan
Tips Khusus Menyimpan Sambal Terasi Agar Tahan Lama
Previous
Tips Khusus Menyimpan Sambal Terasi Agar Tahan Lama
Kualitas Baik Bermula Dari Cara Membuat Telur Asin, Ini Tips Memilihnya!
Next
Kualitas Baik Bermula Dari Cara Membuat Telur Asin, Ini Tips Memilihnya!
Related Articles
Back to
top