x
Login

Or


New to Moslem Lifestyle? Sign up!
x
Forgot Password

Please enter the email address registered on your account


x Have an account? Login
Sign up


Or

x

Stay in the know

The latest news and fabulous ideas straight to your inbox.


Lifestyle   Parenting

Hindari Melakukan Kesalahan Ini Saat Berbicara Pada Anak


Moslem-lifestyle-berbicara-pada-anak

Durasi Baca: Hanya 1 Menit

Mendidik anak bukanlah hal yang mudah. Orangtua perlu tahu, bahwa mereka harus menghindari beberapa kesalahan yang sering dilakukan saat berbicara pada anak.

Komunikasi  dengan anak adalah apa yang orangtua katakan dan bagaimana cara kita mengatakannya. Orangtua berkomunikasi dengan wajah, tindakan, dan juga dengan kata-kata.

Ketika berbicara pada anak, orangtua pasti memiliki tujuan tertentu untuk kebaikan si kecil. Memang da kalanya kita harus melarang mereka untuk melakukan sesuatu.

Ada kalanya pula orangtua harus mengingatkan mereka karena mereka bersalah. Tapi sayangnya, tidak semua anak bisa menerima apa yang orangtua katakan.

Komunikasi yang baik antara orang tua dan anak terbukti dapat mengembangkan sifat-sifat positif dalam diri anak, seperti rasa aman dan bahkan kepercayaan diri.

Akan tetapi, orangtua mungkin pernah tanpa sadar berbicara dengan cara yang keliru pada anak.

Bukannya menyampaikan maksud atau pesan-pesan dengan baik, orangtua justru berpotensi membuat anak merasa minder atau takut.

Kesalahan Saat Berbicara pada Anak yang Perlu Dihindari

Berikut beberapa kesalahan yang perlu diperbaiki sebagai orangtua saat berbicara pada anak, yakni:

Terlalu Mencekoki Anak. Ketika ada banyak hal yang harus diselesaikan, orangtua sering tanpa sadar merecoki anak misalnya, “Kalau terlambat, itu salahmu sendiri!”.

Cara bicara seperti ini secara tidak langsung membuat anak merasa tidak memercayainya. Hal ini bisa berkembang menjadi sikap pasif-agresif bahkan membangkang dan menurunkan kepercayaan diri anak.

Solusinya, gunakan instruksi yang jelas sekaligus bebas nada negatif. Misalnya, “Kamu harus bangun pagi agar tidak terlambat, ya.”

Moslem-lifestyle-berbicara-pada-anak-2

Membuat Anak Merasa Bersalah. Rasa empati pada anak berkembang berangsur-angsur, sehingga orangtua kerap mencoba mengembangkannya dengan menggunakan rasa bersalah sebagai senjata.

Misalnya, ketika anak tidak membereskan mainannya orangtua mungkin berkata, “Kalau papa tersandung mainanmu, terus luka, bagaimana? Kamu mau buat papa luka?”.

Akan tetapi, melakukan hal ini secara berlebihan akan menanamkan perasaan negatif pada anak, serta mengembangkan hal-hal seperti rasa bersalah dan tidak percaya diri.

Solusinya, gunakan perumpamaan yang lebih positif, misalnya, “Kamu suka ‘kan kalau rumah bersih? Makanya, bereskan mainanmu, ya, supaya rumah kita bersih.”


Baca Juga:


Merespons Seadanya dan Setengah Hati. Apakah orangtua pernah melakukan ini? Ketika si kecil menghampiri orangtua dengan bersemangat sambil menunjukkan gambar buatannya, orangtua hanya merespons seadanya dan terus menatap ponsel.

Berbicara pada anak secara seperti itu akan membuat anak merasa terabaikan atau tidak penting di mata orangtuanya.

Solusinya, saat anak berbicara pada orangtua, pastikan melakukan kontak mata dan berikan tanggapan yang menunjukkan bahwa orangtua memahaminya.

moslem-lifestyle-cara-berbicara-pada-anak

Bicara Panjang Lebar. Ketika orangtua berbicara pada anak usia prasekolah hingga awal SD, ingat bahwa otak mereka belum mampu menyerap begitu banyak informasi sekaligus.

Ketika orangtua berbicara panjang lebar begitu banyak informasi sekaligus, terutama jika isi kata-kata orangtua adalah berbagai tuntutan atau perintah, anak akan kebingungan dan sulit memahami pesan yang disampaikan.

Selain itu, jika anak menangkap nada kemarahan atau tuntutan dalam kata-kata orangtua akan membuatnya merasa cemas.

Solusinya, bagi instruksi menjadi maksimal dua kalimat sekali ucap. Jangan lupa menghilangkan aspek negatif seperti menjelek-jelekkan anak.

Membandingkan Anak. Memotivasi anak adalah hal wajar. Akan tetapi, jika orangtua selalu “mengadu” anak dengan orang lain yang dianggap lebih baik atau berprestasi, orangtua berpotensi menurunkan kepercayaan diri anak.

Jika hal ini berlanjut, anak akan tumbuh dengan rasa rendah diri serta selalu meragukan kemampuannya sendiri.

Orangtua lebih baik menekankan potensi anak serta apa yang bisa dilakukannya untuk meningkatkan prestasinya.

Sobat, jangan remehkan dampak dari cara orangtua berkomunikasi dengan anak. Pastikan menghilangkan semua kebiasaan buruk di atas saat berbicara pada anak, ya.

Dayana Cinthya



Buat Tulisan
Kulit Normal Perlukah Mengambil Manfaat Serum Wajah?
Previous
Kulit Normal Perlukah Mengambil Manfaat Serum Wajah?
Larangan Tabarruj, Etika Berhias untuk Muslimah
Next
Larangan Tabarruj, Etika Berhias untuk Muslimah
Related Articles
Back to
top