x
Login

Or


New to Moslem Lifestyle? Sign up!
x
Forgot Password

Please enter the email address registered on your account


x Have an account? Login
Sign up


Or

x

Stay in the know

The latest news and fabulous ideas straight to your inbox.


Lifestyle   FYI

Islam Mengedepankan Kesopanan, Inilah Adab Mengundang dan Menjadi Tamu


 

Durasi Baca: Hanya 1 Menit

Perlu kita pahami bahwa mengundang dan memenuhi undangan merupakan sunnah Rasulullah SAW, bahkan Beliau menganjurkan para sahabat untuk mengadakan dan menghadiri acara seperti kenduri.

Hal ini juga sedikit banyak telah menjadi tradisi masyarakat Indonesia, menjemput atau mengundang saudara, kerabat serta kawan untuk menghadiri pertemuan yang diadakan, baik secara formal atau tidak, seperti undangan pernikahan, undangan pengajian, dan lain sebagainya.

Adapun memenuhi undangan merupakan kewajiban yang harus ditunaikan bagi seseorang yang diundang selama tidak ada yang melanggar syari’at.

Kehadiran seseorang dalam suatu jamuan bisa menjadi salah satu kebanggaan dan kebahagiaan tersendiri bagi orang yang mengundang.

Dalam suasana seperti inilah orang yang hadir akan merasakan pula kebahagiaan shohibul hajah (tuan rumah). Oleh karena itu, adab mengundang dan menjadi tamu juga menjadi penting diperhatikan.

Terdapat beberapa adab mengundang orang untuk menghadiri suatu jamuan, antara lain sebagai berikut:

  1. Hendaknya tidak mengkhususkan undangan bagi orang kaya saja tanpa mengundang orang-orang miskin, hal sebagaimana hadits:

“Sejelek-jelek makanan ialah makanan jamuan resepsi, yang mana hanya orang kaya saja yang diundang tanpa mengundang orang miskin.” (HR. Al-Bukhari)

  1. Hendaknya acara jamuan tidak ditujukan untuk berbangga-bangga dan menyombongkan diri, melainkan hanya tujuan untuk mengikuti Sunnah dan meneladani Nabi kita, semisal Nabi Ibrahim, di mana Beliau diberi julukan Abu adh-Dhifan (orang yang suka menjamu tamu).

    Begitu pula sejatinya diniatkan untuk menghadirkan kegembiraan di kalangan orang-orang mukmin, berbagi suka cita, serta kesenangan di hati para saudara.
  1. Hendaknya tidak mengundang orang yang tengah berada dalam kendala untuk menghadiri jamuan dan tidak pula mengundang orang yang dikhawatirkan merasa terganggu dengan tamu yang hadir.

    Hal ini salah satu usaha untuk menjauhkan perselisihan antara kerabat muslim, sementara memang mengganggu sesama muslim adalah perbuatan haram.
  1. Hendaknya tuan rumah dapat menghidangkan makanan secukupnya kepada para tamu, apabila jika terlalu sedikit maka mengurangi nilai kesopanan (kedermawanan) sementara hidangan yang terlalu banyak mencerminkan perbuatan riya’ (berlebihan).

    Tuan rumah juga tidak boleh cepat-cepat membereskan makanan sebelum tangan tamu diangkat dan selesai menikmati makanannya.

Baca Juga:


Tak hanya dalam hal mengundang, bagi kita yang menjadi tamu undangan juga perlu memperhatikan beberapa adab berikut ini:

  1. Hendaknya segera memenuhi undangan dan jangan menunda-nunda, kecuali bila udzur (alasan tertentu yang dibenarkan), seperti khawatir dapat merusak agama dan/atau fisik.

    Kedatangan kita ialah semata menghormati pengundang sehingga memperoleh ganjaran atas kehadiran tersebut.
  1. Hendaknya tidak membeda-bedakan kehadiran ketika harus memenuhi dua undangan, terlebih antara undangan dari orang miskin dan orang kaya.

    Tentang memenuhi undangan orang miskin, diriwayatkan bahwa al-Hasan bin ‘Ali RA berjalan melewati orang-orang miskin yang tengah menghamparkan serakan remukan roti di atas tanah dan mereka bersama-sama memakannya. Mereka berkata kepada al-Hasan bin ‘Ali :

 

“Mari makan siang bersama kami, wahai cucu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Al-Hasan bin ‘Ali berkata: “Ya boleh, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong.” Beliau pun turun dari hewan tunggangannya dan makan bersama orang-orang miskin tersebut.

  1. Hendaknya tidak membedakan saat harus dua undangan, antara undangan dari orang yang tempat tinggalnya jauh dengan undangan dari orang yang tempat tinggalnya dekat.

    Apabila kita memang mendapatkan dua undangan tersebut dan terpaksa tidak bisa datang salah satunya, selayaknya untuk memenuhi undangan yang lebih dulu datang sekaligus menyampaikan permintaan maaf kepada pengundang yang kedua.
  1. Hendaknya tidak menunda-nunda untuk datang ke jamuan makan hanya dengan alasan puasa. Jika tuan rumah senang jika kita memakan hidangannya, maka diperbolehkan baginya membatalkan puasa (sunnah) yang dilakukannya.

    Apabila kita tetap ingin melanjutkan puasanya, maka hendaklah segera mendo’akan tuan rumah.

Pada dasarnya, adab mengundang dan menjadi tamu harus menjadi penyatu kaum muslimin dan saling berbagi kebahagiaan. Bukankah hati kita juga akan bahagia melihat kerabat atau kawan berbahagia?

Danur K Atsari



Buat Tulisan
Hidup Sehat Lebih Enak dengan 10 Makanan Penurun Kolesterol
Previous
Hidup Sehat Lebih Enak dengan 10 Makanan Penurun Kolesterol
Tiga Bentuk Cinta Dalam Islam, Cinta Kepada Allah Paling Utama
Next
Tiga Bentuk Cinta Dalam Islam, Cinta Kepada Allah Paling Utama
Related Articles
Back to
top